Antara Mimpi dan Realita

Aku masih meraba-raba

di antara gelapnya awan malam

mencari asa yang tersesat

tersesat jauh karena kecewa

 

aku masih meraba-raba

diantara lebatnya helaian duka

mencari semangat yang dulu tumbuh

namun layu diterpa waktu

 

dulu aku hidup dalam angan

angan yang membuatku melayang

membuatku yakin bahwa aku bisa

namun akhirnya aku kecewa

kecewa, sangat kecewa,

apa yang ku impi benar-benar menjadi mimpi

tak ada kesempatan tuk jadi realita

 

hidupku buyar

tak tahu apa yang harus kulakukan

rencana-rencana indah yang kurancang tak berguna

tak berguna dan tak kuasa ku membangunnya lagi

karena semangatku hilang

ditelan kekecewaan

akan harapan yang sangat kuharapkan

 

ku curahkan hatiku pada angin malam

tentang sedihnya aku akan kehidupan

tentang nasib yang sebegitu tega

tega akan diriku yang menghamba

 

angin malam,

kembali kucurahkan duka ini padamu

agar hilang beban di hatiku

agar aku bisa pindah

tak terpuruk di jurang kecewa

 

angin malam,

sampaikan padanya,

mungkin sekarang bukan waktu yang tepat

namun nanti

ia akan melihat dengan bola matanya

bahwa cinta ini selalu ada

walau jarak dan nasib memisah

akan selalu ada

karena dia lah semangat yang takkan tergantikan

 

Mencari

Dunia penuh akan pencarian

Mencari jati diri

Mencari tujuan hidup

Mencari arti dari teka-teki dimatamu

 

Mencari…

Hal yang jarang kulakukan

Namun menjadi sering bila kau ada

Mencari pesan di bola matamu

Mencari kunci di gerak-gerikmu

Mencari jawaban dari suaramu

Mencari hati yang tersasar di lubuk hatimu

Mencari bilamana ada cinta lain yang menikung

Mencari bilamana ada kursi tersisa di tribun cintamu

Mencari kepastian untukku lanjut atau mundur

 

Mencari …

Aku selalu mencari bila itu tentangmu

Karena mencarimu adalah tujuanku

Dengan mencarimu aku tak perlu kemana-mana lagi

Bingung

Sumpah mati berkali-kali ku bingung

Akan engkau yang seperti itu

Kita saling kenal, namun tak saling menyapa

Kita saling tahu, namun seolah-olah tak tahu

Kita saling suka ? Enah masih ku ragu akan itu

 

Sumpah mati berkali-kali ku bingung

Akan kita yang ambigu

Sebenarnya kita ini apa ?

Teman, sahabat, saudara atau apa?

Musuh, saingan, rival atau apa?

Atau jangan-jangan bukan itu semua??

Atau jangan-jangan…

Sebenarnya kita ini saling suka ?

Saling suka lagi ?

Aaahh… aku makin ragu

 

Ayolah jangan begini lagi

Aku makin bigung, melihatmu yang rancu

Aku makin nelangsa, melihatmu yang abstrak

 

Sebenarnya kamu itu apa ?

Manusia ? Malaikat ? Dewa ?

Atau belahan jiwa saya ?

 

 

Kau dan Masa Lalu

Kau dan masa lalu

Adalah sepaket lengkap luka dalam hatiku

Yang mengiris pedih dinding hati

Yang membunuh cintaku hingga kini

 

Kau dan masa lalu

Adalah saksi akan bodohnya aku

Yang saking lugu bisa menyukaimu

Yang sama sekali tak sadar akan adanya aku

 

Kau dan masa lalu

Sebongkah luka yang masih ada

Dalam sudut hati yang meringis

Meringis akan keadaan yang tak lagi sama

 

Kau dan masa lalu

Kau adalah masa lalu

Begitupun masa lalu adalah kau

Tak dapat kupisah

Tak dapat kuhapuskan

Tak dapat ku lepas

Dan membuatku makin merana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masihkah Kau Ingat Padaku ?

Masihkah kau ingat padaku ?
si bocah kecil yang selalu memandangmu bingung
yang diam-diam memperhatikanmu tanpa kau tahu
yang diam-diam mengagumimu lewat foto zaman dulu

Masihkah kau ingat padaku ?
Si bocah jelek yang selalu gugup di depanmu
namun selalu memuja di belakangmu
yang selalu acuh di depanmu
namun selalu rindu di belakangmu
diam-diam mencintaimu
tak berhenti membayangkanmu

Masihkah kau ingat padaku ?
si bocah kecil nan jelek, pun sampai saat ini
walau mungkin kau kan lupa pada bocah itu
bocah itu takkan pernah melupakanmu
karena kau telah menjadi
kepingan hati yang menguatkan
menguatkan hatinya
menguatkan langkahnya
menguatkan jiwanya
walau kau takkan mungkin ingat padanya

Klaten, 11 Juli 2016

NB : Ini bukan curhatan dari lubuk hatiku yang terdalam kok. Jangan dibawa serius yaaa, hehe. Hanya sekedar berperan jadi ‘anak galaw’ biar lebih mudah menjiwai puisinya haha

Betapa Hancur Hatiku

Betapa hancur hatiku
melihatmu yang galau memikirkan orang lain
dikala ku sendiri sibuk memikirkan dirimu

betapa hancur hatiku
melihatmu senyummu yang manis itu
senyummu karena bahagia bersama orang lain
dikala aku berangan tuk jadi alasanmu tersenyum

betapa hancur hatiku
melihatmu bersedih karena ditolak orang lain
dikala aku bersedih akan kasihku padamu
kasihku yang bertepuk sebelah tangan

betapa hancur hatiku
ah…sudahlah
mau hancur seperti apapun
kau toh takkan peduli

Klaten, 12 Juli 2016

NB : Ini bukan curhatan hati atau semacamnya, hanya sekedar nulis ala anak-anak galau biar sekali-sekali ngerasain gimana rasanya ‘galau’, sekalian nepatin jadwal posting blog hehehe

Puisi : Terjebak

Aku terjebak dalam lubang buaya

adakah yang bisa menolongku ?
Dingin menggigil dibawah sini
Mana mentari ? ia tak ingin menolongku?
Aku terjebak kembali dalam lubang buaya
aku tak melihat sang buaya
namun ku yakin sebentar lagi ia kan menerkam
duh,, tak ada yang bisa menolongku?
bahkan aku pun tak dapat menolong diriku sendiri
Aku terjebak kembali
setelah sebelumnya Tuhan turun tangan menolongku
Hamba seperti apa aku ini?
Haruskah kini aku kembali meminta Tuhan menolong?
Ah, bahkan ku taktahu bagaimana perasaan-Nya padaku
Kenapa tiang hati ini roboh begitu saja?
Ah Hamba apa aku ini?
Kapan aku bertobat?
Tanya hatiku pada diriku