Nasehat Untuk Yang Merasa Lelah & Bosan di Jalan Dakwah

Ikhwati fillah, mari kita renungkan fragmen berikut : “Ustadz, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh…” Begitu keluh kesah seorang kader dakwah kepada murobbinya di suatu malam.

Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu “? sahut sang murobbi setelah sesaat termenung. “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak Islami. Juga dengan organisasi da’wah yang ana geluti ; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja..” jawab ikhwah itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. “Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan ?” Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad’u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat. “Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan “? sang murobbi mencoba memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan ? Bagaimana bila ikan hiu datang ? Darimana antum mendapat makan dan minum ? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin ? serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwan tersebut.

Tak ayal, sang ikhwan menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan da’wah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah SWT ?” ( Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk. Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok ? antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya ? Tanya sang murobbi lagi.

Sang ikhwah tetap terdiam dalam sesenggukkan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya …” Cukup Ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berda’wah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan.. Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam da’wah. Dan hanya jalan ini saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana ..” sang mad’u berazzam di hadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan untuk berda’wah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan..” papar sang murabbi.

“ Bila ada satu-dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap da’wah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.

Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah da’wah ini dapat berjalan baik “? sambungnya panjang lebar.

Sang mad’u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. “Tapi, bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi da’wah dengan kapasitas ana yang lemah ini ?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. “Siapa bilang kapasitas antum lemah ? Apakah Allah mewahyukan kepada antum ? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain !” sahut sang murobbi. “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiyah dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghibah antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya…”

Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan da’wah.

Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, dihempas gersangnya debu ‘wahn’ yang begitu kencang menerpa. Biarkan amal-amal ini semua menjadi saksi, sampai kita diberi satu dari dua kebaikan oleh ALLAH SWT: kemenangan atau mati syahid.

Ikhwati fillah, Jalan ini, seberat dan sesulit apapun itu, seorang mukmin sejati akan senantiasa menikmati dan mencintainya. Dalam menjalaninya, kita akan dapat merasakan manisnya jalan ini, rasa manis yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban berat, menabahkan kita untuk terus menapaki dan mendakinya, dan menjadikan kita ridho terhadap-NYA, bahkan ketika melewati masa terpahit dan hari terberat sekalipun. kita akan selalu ingatkan siapa saja yang berniat mundur dari jalan ini : “Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Allah termasuk dosa yg besar di sisi ALlah dan hina di pandangan orang2 yg beriman..” sesungguhnya kita akan menemui masa-masa sulit, masa-masa yg melelahkan, dan berbagai ujian. Padahal kita tengah berada dan berjalan diatas jalan kebenaran dan disibukkan berbagai aktifitas dakwah. Tapi kita meyakini bahwa teguh diatas jalan ini dan sabar menghadapi berbagai, niscaya kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang, dan yg tersisa bagi kita adalah ganjaran dan pahala…

Kita selalu menyadari bahwa sesungguhnya amal islami bukanlah aktifitas sesaat..

amal islami bukanlah aktifitas yg cukup dikerjakan disaat kita memiliki waktu luang dan bisa ditinggalkan saat kita sibuk. Sekali-kali tidak…

Amal islami terlalu mulia dan agung. Sesungguhnya celah tidak akan pernah tertutup…

kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang ma’ruf tidak akan pernah terwujud kecuali dengan amal…

disinilah peran kita…

wahai saudaraku semua….

peran kita semua.

Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami dan diamalkan…

Kita paham dan sadar bahwa agama ini hanya akan tegak diatas pundak orang-orang yang memiliki azzam yg kuat. Ia tidak akan tegak diatas pundak orang-orang yg lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah. Tidak akan pernah tegak agama ini hanya dengan ragu, termangu menjalin mimpi tanpa gerak maju…

Tidak akan pernah tegak agama ini tanpa kerja nyata, dan tercencang jeratan angan hampa….

Ada nasehat yg luar biasa dari Ibnul Qayyim rahimahullah…

“Wahai orang yang bersemangat banci..! ketahuilah, yang paling lemah di papan catur adalah bidak. Namun jika ia bangkit, ia bisa berubah menjadi menteri, bahkan ‘ster’…

nasehat tersebut sangat mengena buat kehidupan kita… betapa kita sering memiliki semangat yang banci dalam mengemban dan menapaki jalan ini, bukan semangat yg membaja…

kita hanya mau aktif dalam ‘zona nyaman’….

kita menjadi militan karena lingkungannua memang membentuk seperti itu, tapi sebenarnya kita rapuh…

kita sering dan mudah sekali mengeluh dan mengeluh, padahal kita belum mencoba berbuat sesuatu….

Semoga Allah merahmati orang yang telah mengucapkan kalimat berikut :

” Wahai orang yang meminang bidadari surga tetapi tidak memiliki sepeser pun semangat, janganlah engkau bermimpi….

telah sirna manisnya masa muda dan yang tersisa hanyalah kepahitan dan penyesalan….

Jika Kesusahan adalah Hujan dan Kebahagiaan adalah Mentari Kita tetap membutuhkan keduanya Untuk melihat indahnya Pelangi

Begitulah aku mengibaratkan UKHUWAH ini Senantiasa saling melengkapi satu dengan lainnya Dan tak ku nafikan jika ada kekurangan yg terjadi di dalamnya Karena itulah ruang PEMAKLUMAN ini begitu terbuka luas untuknya Dan aku senantiasa belajar untuk dapat MEMAHAMI nya semoga begitu juga denganmu …

Advertisements

Jika Lelah Dalam Dakwah, ‘Istirahatlah’…

Mari kita beristigfar, Saudaraku.

Istigfar, apabila dakwah kita selama ini sering diselingi dengan keluh kesah. Istigfar, bila orientasi kerja kita masih keliru, sehingga akhirnya hanya lelah yang kita tumpu. Istigfar, jika ternyata kita termasuk aktivis dakwah yang beramal seadanya, mengada-ada, atau ada-ada saja.

Saudaraku, semoga hati kita bergetar karena-Nya. Semoga istigfar tadi dapat membuka hati kita, yang selama ini membeku, tertutup oleh kelelahan dan kelemahan. Lelah karena lupa pada-Nya. Lemah karena tidak menyertakan-Nya pada setiap amal kita.

Jika lelah, tidak ada salahnya kita beristirahat, Saudaraku. Meski sejenak, beristirahatlah. Karena dengan beristirahat, kita bisa tahu bagian mana yang lelah, bagian mana yang salah. Dengan beristirahat, kita dapat mengumpulkan tenaga untuk berlari kembali. Istirahatlah, Saudaraku. Sejenak saja. Sisakan waktu untuk tubuhmu tenang. Sementara biarkan otakmu me-review apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Dan tanyakan: Mengapa kita melakukan semua itu? Apa yang membuat kita bertahan hingga sejauh ini? Dan biarkan jiwamu menyelami makna dari setiap jengkal perjuangan yang telah kita lakukan.

Adakah yang terlupa, Saudaraku? Tentang nikmat yang lupa untuk kita syukuri. Tentang amal kecil yang belum kita jalani. Atau, adakah yang terlewat? Tentang dosa-dosa kecil yang kita remehkan. Tentang kelemahan yang tak kunjung dikuatkan. Sehingga pondasi dakwah kita keropos, tergerus oleh waktu dan nafsu. Sehingga amanah tak ubahnya tongkat estafet, meski berpindah namun tak berubah. Tak berkah. Sampai kapan kita tejebak dalam siklus stagnan ini, Saudaraku?

Mari kita beristirahat. Sejenak saja. Tak perlu waktu lama. Seperti yang dilakukan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Karena kebiasaannya ketika sebelum tidur mengistirahatkan egonya, mengistirahatkan nafsunya, mengistirahatkan kealpaan dan kelemahannya dalam sehari itu. Ia istirahatkan semuanya dalam tetes air mata. Penuh sesal atas dosa.

Dan bukankah itu pula yang menyebabkan sahabat yang lain juga dijamin masuk surga? Karena setiap hari ia terbiasa mengistirahatkan kesedihannya, mengistirahatkan kemarahannya, mengistirahatkan bayang dan prasangkanya terhadap orang lain. Sehingga dalam sehari, sebelum tidur, ia selalu memaafkan orang yang telah membuat hatinya terluka. Juga membersihkan hatinya terhadap iri dengki, apabila orang lain mendapat rezeki melebihi dirinya.

Saudaraku, tetaplah kuat. Jangan biarkan diri kita lemah dan terjerumus dalam kungkungan kesedihan. Namun jangan pula jadikan sebuah amanah sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan kita untuk tawazun di amanah-amanah lainnya.

Ingatlah, kekuatan dakwah bukan terletak pada ramainya seremonial atau besarnya sebuah acara. Bukan pula pada banyaknya agenda yang kita lakukan. Tapi, kekuatan dakwah terletak pada sebuah kesederhanaan, yang terpancar di setiap pribadi para pelaku dakwahnya, para aktivis dakwahnya. Karena menjadi sederhana itu kuat, Saudaraku.

Apabila yang lain telah menjauh dan terbentur dengan kedustaan dan kemalasan, tetaplah berada pada kesederhanaan. Karena kesedernahaan itu terwujud sebagai sebuah amal yang jujur, tidak banyak alasan. Kesederhanaan juga terpancar pada kesabaran, tanpa banyak keluhan. Dan kesederhanaan tentunya lahir dari sebuah kesadaran. Sadar untuk menjaga keikhlasan dalam niat. Sadar untuk tetap komitmen dalam dakwah. Sadar untuk terus istiqomah, meski yang lain sudah berubah.

Kuliah Juga Amanah

cropped-tumblr_static_tumblr_static_7qtu92fd3bc4koggsgkk4k8c8_640.jpg

Mahasiswa  sejatinya adalah posisi yang paling ideal. Tidak sulit dijangkau, apalagi dengan semakin banyaknya beasiswa  yang  dikhususkan untuk anak bangsa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mudah berinteraksi dan diterima oleh semua kalangan, baik itu dari lapisan menegah ke bawah ataupun menengah ke atas. Dia juga punya posisi istimewa sehingga mempunyai kesempatan lebih untuk berjumpa langsung dengan para pemegang kekuasaan negeri ini.

Mahasiswa, entah kenapa sekarang  atau mungkin di kampus saya saja ya, maknanya dikerucutkan menjadi lulusan SMA atau calon sarjana yang sibuk dengan tugas kuliah, tugas besar, praktikum, asistensi, atau organisasi kemahasiswaan sampai jarang pulang bahkan jarang mandi. IPK mendaki gunung lewati lembah seperti ninja hatori, namun ada juga yang menyebut dirinya aktivis dan tetap mampu menyeimbangkan keduanya. Entah, ini pilihan beserta konsekuesi ataukah pembuktian bagi yang berhasil dan pembenaran bagi yang pas-pasan.

Tidak jarang mendengar aktivis yang kuliahnya nggak lulus-lulus, yang menghabiskan beberapa semester untuk matakuliah yang sama, yang skripsinya molor, IPnya merosot tajam, dan beberapa kenyataan pahit lain yang tidak nyaman didengar. Katanya aktivis?Aktif di mana sih? Kalau mahasiswa aktif kenapa seperti itu begitu nasibnya? Miris. Prihatin.

Apakah benar jika menjadi mahasiswa yang baik dan menjadi aktivis yang baik itu dua hal  yang harus dipilih salah satunya? Bukankah label aktivis itu terpasang setelah diakui sebagai mahasiswa? Bukankah dia menjadi irisan di antara keduanya? Bukan dua hal yang berbeda? Lalu kenapa dianggap wajar ketika seorang anak manusia di waktu yang sama menjadi mahasiswa yang tidak baik dan aktivis yang baik, atau sebaliknya?

Berbagai pertanyaan yang sering muncul dan menyesak ketika dilema antara mengerjakan tugas kelompok dan rapat, antara menyelesaikan laporan dan merancang program kerja organisasi, antara praktikum dan jadi PJ kegiatan, antara UAS dan evaluasi tengah tahun. Dilema. Mungkin waktu bisa  dengan mudah dibagi.Tetapi, pikiran tidak! Di kampus mikirin organisasi, di sekre mikirin tugas kuliah. Campur aduk. Abstrak. Absurd.

Di lain sisi, ada anak manusia yang rajin membawa catatan kecilnya, list ‘amanah’, dan list kerjaan kuliah. Rapi. Saat di kelas focus sama dosen, tidak meninggalkan Tanya ketika kelas berakhir. Laporan praktikum beres, balik ke sekre, rapat sama staf. Malamnya beresin LPJ kegiatan, masih sempat ngerjain tugas dan baca materi buat besok. Kuliah lancar, amanah kelar. Dua fenomena ini bias dengan mudah dijumpai di kampus. Bisa diri sendiri, teman sepermainan, sampai pejabat tinggi organisasi. Rasa-rasanya bukan Cuma karena SO IPK bias tetap cumlaude. Bukan juga hanya karena aktif organisasi kuliah jadi berantakan.

Lagi-lagi, seharusnya menjadi mahasiswa yang baik dan aktivis yang baik bukanlah pilihan, tapi sebuah kewajiban. Jika hanya berhasil jadi mahasiswa yang baik namun bukan aktivis, maka dia mahasiswa apatis. Kenapa apatis? Karena nasib bangsa ini bergantung padanya. Maka dia harus peka. Tidak hanya peduli pada masa depan dirinya sendiri, apatis.

Jika dia hanya berhasil jadi aktivis yang baik namun kuliahnya ditinggalkan, maka dia mahasiswa yang  tidak bertanggung jawab. Biaya kuliahny ada risubsidi yang berasal dari pajak negara yang dibayar oleh berbagai kalangan warga negara. Kalau kuliahnya nggak niat, berarti dia sudah menyia-nyiakan kesempatan berharga itu, tidak bertanggung jawab.

Sungguh merana nasib ‘amanah’. Seringkali dia jadi tempat pelarian ketika sudah jenuh, capek, malas mengerjakan apa-apa yang hubungannya sama kuliah. Tapi seringkali juga dia dijadikan kambing hitam dan pembenaran jika ada yang tidak beres dengan urusan akademik. Ibarat kata, habis manis sepah dibuang, atau air susu dibalas dengan air tuba. Dasar mahasiswa, mungkin begitu katanya jika dia bisa bicara.

Begitupun nasib kuliah. Dulu diimpikan, dikejar, diperjuangkan. Bangga sekali ketika mampu meraihnya pertama-tama. Namun lama-lama dia sering diduakan dengan si amanah. Ditinggal. Terbengkalai. Jika amanah memintanya kembali, dia dijadikan alasan untuk pergi. Jika dianggap tidak bisa memegang amanah, kuliah dikambinghitamkan. Mau fokus kuliah katanya, padahal ya tetap ada jatah ‘bermain’ di sela-selanya. Jadi sebenarnya ini salah siapa? Kuliah yang terlalu banyak menuntut ataukah ‘amanah’ yang  tidak tahu diri?

Bicara soal amanah, kuliah juga amanah. Amanah dari orang tua, amanah dari generasi di jaman yang sama tapi tak beruntung menggapai citanya sebagai mahasiswa, amanah dari tukang becak, pedagang asongan, tukang gali kubur, seluruh rakyat kecil yang tidak tahu harus berbuat apa ketika nafasnya makin sesak dihimpit kerasnya hidup, tapi harus tetap taat sebagai seorang warga negara. Maka akan sangat berdosa jika seorang anak manusia yang beruntung bisa kuliah, tapi tidak amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang mahasiswa.

 

oleh:

Yusfin Rahayu

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 

Sumber : https://fsldksurabaya.wordpress.com/2014/02/26/kuliah-juga-amanah/

Urgensi Amal Jama’i Dalam Amanah Dakwah Kampus

bersama

Bismillahirrahmanirrahim.

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (As-Saff, 61:4)

Setiap makhluk uniseluler hanya akan mampu bertahan hidup, hanya berusaha untuk bertahan hidup. Namun setiap makhluk multiseluler akan saling berintegrasi, bekerjasama, bukan hanya bertahan untuk tetap hidup, tapi juga mampu berkarya lebih. Bukan sekedar berdiri untuk dirinya sendiri, tapi memberi untuk setiap kanan dan kiri dari lingkungan tempat ia berdiri.

Setiap Manusia bisa memilih untuk sendiri, namun tentu saja, semasa hidupnya mungkin ia hanya akan dipusingkan untuk memenuhi kebutuhan diri, bertahan untuk tetap mampu berdiri. Setiap manusia juga dapat memilih untuk mengikuti fitrahnya sebagai makhluk sosial, memilih untuk hidup bersama orang lain, berjama’ah untuk jatuh bangun melewati kehidupan yang begitu terjal. Meskipun dia yang memilih sendiri bisa berlari secepat mungkin hingga meninggalkan sekumpulan orang yang memilih jatuh bangun bersama-sama, namun selalu ada sebuah titik yang tak pernah mampu di lewati setiap orang yang berlari sendiri, lubang besar dimana ia terjebak sendiri tanpa ada orang lain yang dapat membantunya, hingga sekumpulan orang yang berjalan perlahan itu dengan perlahan tapi pasti, melewati seorang yang memilih takdir hidupnya untuk berlari sendiri.

Kita memang dapat memilih untuk menikmati indahnya Islam sendirian, berkhalwat dengan Allah setiap saat. Kita memang dapat memilih untuk menegakkan Islam begitu kokoh pada hati kita sendiri, mencintai Islam untuk kita seorang, lantas melangkah dan menatap jauh ke depan bahwa ia akan melangkah ke surga suatu hari nanti. Sekilas sendirian memang jauh lebih mudah, namun kita juga perlu tau bahwa bersama-sama akan jauh lebih indah.

Bicara soal amal jama’i berarti kita bicara soal memilih fitrah kita sebagai manusia, untuk hidup berkelompok, bersama menutupi kelemahan, bergandengan merangkul kekuatan, untuk bersama menuju sebuah tujuan. Sadarkah kita? Bahwa Surga tidaklah sesempit itu hingga orang lain perlu menjatuhkan orang yang lain agar ia mendapatkan surganya sendiri, setiap orang tidak perlu berlari meninggalkan yang lain agar kelak hanya ia yang sampai kepada pintu surga. Pastikanlah kita ada dalam sebuah lingkaran besar sebuah gelombang orang-orang shaleh yang sama-sama terus bergerak menuju surga. Sekali lagi, sekilas sendirian memang jauh lebih mudah, namun kita juga perlu tau bahwa bersama-sama akan jauh lebih indah.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Ketika kita sudah memilih untuk bersama, ketika kita sudah memilih untuk beramai-ramai menempuh jalan-Nya dalam sebuah barisan yang begitu panjangnya. Jangan pernah lupa bahwa kita tidak hidup di negeri dongeng, atau di negeri cerita-cerita dunia maya, apalagi cerita animasi yang mungkin masih rutin kita menyaksikannya. Kita tidak hidup di dunia yang demikian, dimana disana yang baik akan selalu menang. Faktanya, kejahatan yang terorganisir pasti akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Faktanya barisan yang tidak teratur akan selalu luluh lantah akan barisan yang rapi bagai bangunan yang kokoh. Bukankah tidak akan Allah ubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mengubah keadaannya sendiri?

Jika kita ibaratkan bahwa amal jama’i kita adalah sebuah bangunan, dalam kondisi yang demikian, maka kita hanyalah sebuah batu-batu bata yang tidak tersusun. Ketika kita sudah memilih untuk bersama-sama, maka kita harus sadar bahwa bersama berarti bersabar. Bersabar untuk saling membangun. Meskipun pada dasarnya kita akan berada pada posisi yang berbeda-beda. Selayaknya bangunan, akan ada yang menjadi pondasinya, akan ada yang menjadi temboknya, akan ada yang menjadi jendela dan pintunya. Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa amal jama’i bukan hanya mengerjakan sesuatu hal yang sama secara bersama-sama. Tapi lebih luas dari itu. Selayaknya bangunan, setiap unsurnya memiliki satu tujuan yang sama, yakni melindungi apa yang ada didalamnya.

Ketika kita harus menjadi jendelanya, jadilah sebaik-baik jendela sehingga setiap keindahan dapat terlihat, setiap cahaya dapat menjadi menerangi. Ketika kita harus menjadi pintu, jadilah sebaik-baik pintu, sehingga setiap orang yang masuk ke dalam rumah kita merasa tersambut karena pintu kita yang terbuka begitu lebarnya. Dalam amal jama’i, kita harus dapat saling mengerti bahwa setiap kita memiliki posisi yang berbeda-beda dalam satu tujuan bersama. Penting bagi kita untuk saling menghargai dan saling mendukung, saling percaya namun juga dapat dipercaya.

Semua butuh struktur layaknya sebuah bangunan, itulah juga hakikat dari amal jama’i. Tidak semuanya dapat terlihat. Tentu ada bagian terdalam yang selalu dapat membuat bangunan terluarnya kian kuat. Setiap struktur membutuhkan fondasi yang begitu kuat sehingga bangunan yang terbentuk kian kokoh. Dalam amal jama’i ini, mereka yang kian kokoh berdiri diluar selalu membutuhkan pengokoh. Lingkaran-lingkaran fondasi yang terus memberikan energi.

Terakhir, jika bicara amal jama’i, memang agak panjang bahasannya. Yang jelas, ingatlah tentang apa yang ada di hati, pastikan yang utama ialah Dia, Allah subhanahuwata’ala. Jadikan dia yang utama apapun posisi kita dalam struktur kehidupan. Entah sebagai seorang aktivis BEM, entah sebagai kader dari Lembaga Dakwah Kampus, ataupun punggawa ilmu di UKM keilmuan. Utamakan islam dimanapun kita berada.

Sumber : dakwatuna.com

Buat Kamu Yang Sering Galau, Wajib Baca Ini

Habis lebaran gini, biasanya undangan berdatangan dari teman-teman. Syawal benar-benar seperti bulan ‘berbuka’ untuk mereka yang ‘berpuasa’. Iya, apalagi kalau bukan menikah.

Kadang ada sedih menyelisip di relung hati kita, “Giliranku kapan ya?”. Begitu jiwa ini sering bertanya dan entah kapan datang jawabannya. Si galau datang lagiii gak pergi-pergi.

Kalau sudah begini enaknya menyepi menyendiri. Baring-baring di kamar, pasang earphone, putar lagu sendu, dan.. yeay, hujan! Pas banget bikin suasana semakin romantis melankolis mengiris-iris.

Well, well, kalo sudah begini, siapa sebenarnya yang bikin si galau awet menemani? Gimana gak jadi galau terus-terusan kalau kitanya memang tak mau beranjak dari situasi tersebut? Jangan-jangan kita memang pribadi yang senang bergalau ria. Selamat deh ya, waktumu terbuang, perasaanmu super mellow meratapi diri, dan asli gak produktif abis.

Trus gimana donk biar kita berubah, gak sering-sering galau negatif macam ini? Yok deh simak dulu tipsnya.

  1. Berhenti Mendengarkan Lagu Galau

“Hanya kepedihan / Yang s’lalu datang menertawakanku

Engkau belahan jiwa / Tega menari indah di atas tangisanku…”

Buat kamu yang masih suka dengerin lagu-lagu galau, berlirik cengeng, bernada sendu mendayu-dayu, aduuuuh… berhentiii, berhenti!

Lagu kayak gitu cuma bikin jiwa kamu lemah, hati kamu makin gundah, dan airmata bertambah-tambah. Hati-hati dengan apa yang kita dengar. Terlebih lagi mendengarkan lagu yang melibatkan emosi mendalam, sudah pasti akan tertanam di alam bawah sadar. Percayakah kamu bahwa perasaan dapat menarik hal-hal sejenis terjadi? Jika kita bahagia, maka kita akan menarik kebahagiaan di sekeliling kita. Begitu pula halnya jika kita sedih melulu, segala kemalangan biasanya senang mendekat padamu.

Mulai sekarang berhentilah melemahkan diri. Stop dengerin lagu-lagu cengeng ya!

  1. Hindari Sering Bergaul Dengan Orang Galau

Energi itu tular-menular. Maka pastikan sekelilingmu penuh dengan energi positif. Deket-deket orang yang sering galau biasanya jadi nular lho. Makanya kalau temenmu banyakan yang suka galau, hati-hati deh. Bisa dipastikan kamu akan mirip-mirip seperti mereka juga.

Lalu gimana kalau kita memang sering jadi tempat curhat? Kan ketumpahan galau mulu..

Gampang, kuncinya kita selalu fokus pada solusi. Sehingga setiap curhatan menemukan penyelesaiannya, gak cuma langganan dicurhatin doang. Bosen kan dicurhatin itu lagi-itu lagi setiap hari?

  1. Ikut Banyak Kegiatan Positif

Yang bikin setiap masalah kepikiran terus dan bikin kita menggalau biasanya karena kita banyak waktu luang. Coba aja, begitu kita senggang, kita akan sering kepikiran si dia. Putusin gak ya.. tapi kangen.. tapi takut bermaksiat sama Allah.. en de blab la bla. Wah, peluang banget buat syetan memainkan panah-panah beracunnya dalam pikiran kita.

So daripada kamu buka gerbang hati buat bergalau ria, buruan cari kesibukan yang positif. Ikutlah ekskul, kepanitiaan di kampus, komunitas remaja masjid, organisasi, les dan sebagainya. Insyaa Allah kalau kita sibuk dengan kebaikan, hati gak akan mudah galau.

  1. Rajin Datang Pengajian Rutin

Yang ini sudah pasti jadi nutrisi hati. Iman terjaga, taqwa dipelihara. Kok bisa?

Iya donk, sebab dengan datang pengajian rutin, ruhiyah kita akan ter-charge terus. Kita diingatkan berulang kali tentang akhirat. Tentang dunia yang cuma sementara. Tentang hal-hal yang jauh lebih penting daripada mikirin si dia. Hidup ini singkat, Dear. Dan iman itu naik dan turun. Makanya kita perlu lingkungan kondusif yang menjaga agar iman itu meningkat. Jika kamu belum temukan kelompok pengajian rutin, carilah. Temukan guru atau kakak pembimbing yang bisa menjadi tempat kita bertanya, curhat, juga saudara-saudara seiman yang saling mengingatkan.

Okay, coba diterapin ya. Mudah-mudahan penyakit galau negatif itu cepat hilang dari pribadi kita. Galaulah yang positif. Galau mikirin ummat yang  sedang tertimpa masalah, galau soal membalas kasih orangtua, dan semua yang bernilai manfaat. Siap? Yuk!

picture : https://id.pinterest.com/pin/103301385174833550/

 

Sumber :

https://www.elmina.id/buat-kamu-yang-sering-galau-wajib-baca-ini/

Jodoh Tak Akan Kemana, Memetik Hikmah Dari Kisah Cinta Yusuf AS dan Zulaikha…

Jodoh tak akan kemana, mungkin istilah ini sudah tak asing lagi bagi kita semua. Jika kita melihat keluar, sangat banyak sekali orang yang sudah saling mencintai (baca : pacaran ) dalam jangka waktu yang lama namun pada akhirnya gagal menikah padahal sudah saling berjanji, saling membangun komitmen dan orang tuapun sudah saling kenal. Namun disisi lain tak sedikit juga yang awalnya tidak saling mengenal namun Allah pertemukan dalam ikatan suci pernikahan, ya mereka berjodoh.

Jodoh tak akan kemana, kalau memang bukan jodohnya apapun dan bagaimanapun mengusahakannya Allah selalu punya cara yang indah untuk tidak mempertemukannya. Begitu pula sebaliknya, jika memang sudah berjodoh bagaimanapun jauhnya jarak, tak mengenal sekalipun Allah juga selalu punya cara yang indah untuk mempertemukannya.

Jodoh tak akan kemana, ada kisah menarik yang diabadikan dalam Al-quran yaitu dari kisah Nabi Yusuf AS. Kita akan memetik hikmah dari satu episode kehidupan Nabiyullah Yusuf AS ini yaitu kehidupan percintaannya.

****

Saat ketaatan pada Allah selalu menjadi landasan dalam mencinta

“Dan wanita (zulaikha) yang yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata ‘Marilah kesini, ‘Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik, Sesungguhnya orang – orang zalim tiada akan beruntung.” (Q.S : Yusuf : 30)

Yusuf AS, adalah seorang pemuda yang dikenal sejarah sebagai laki-laki yang sangat tampan hingga ketampanannya ini begitu mempesona banyak wanita salah satunya adalah istri majikannya yang lebih dikenal dengan nama Zulaikha. Para ulama tafsir menyebutkan usia Yusuf AS saat tinggal di istana berkisar antara 20 – 25 tahun. Jika ditilik dari usianya kita bisa bayangkan anak muda dengan usianya ini tentu saat-saatnya syahwat bergejolak tinggi, terlebih lagi ia hadir di negeri asing dimana statusnya disana hanya sebagai seorang budak yang diperjual belikan, status terendah dalam strata masyarakat kala itu. Ibnu Taimiyah mengungkapkan, “Orang asing itu sulit menghindarkan diri dari perbuatan jahat” , namun ternyata tidak dengan Nabiyullah Yusuf AS, Yusuf AS mampu menolak ajakan dari zulaikha meskipun tak ada siapa-siapa di istana hanya mereka berdua serta semua pintu-pintupun sudah ditutup oleh Zulaikha, ia mampu mencegah dirinya dari ajakan maksiat dari zulaikha yang kala itu juga sangat cantik dan menarik. Saat itu Yusuf berkata “Aku berlindung kepada Allah”, dan Allahpun menjaga dirinya dari kemaksiatan, ia lolos dari ujian iman tersebut.

Cinta itu tentang pilihan, dan Yusuf AS memilih ketaatan kepada Allah SWT, ia menerima resiko atas penolakan terhadap majikannya tersebut yang dalam singkat cerita pada akhirnya Yusuf di penjara.

Jodoh tak akan kemana, Allah punya cara yang indah untuk mempertemukannya kembali

Setelah beberapa waktu Yusuf AS menjalani hukumannya di penjara, tibalah saatnya ia dibebaskan banyak kisah menarik disini bermula dari menafsirkan mimpi hingga akhirnya dipercaya menjadi bendaharawan negara dan pada akhirnya menjadi raja menggantikan suami Zulaikha ketika ia telah meninggal dunia.

Saat inilah Yusuf dan Zulaikhapun bertemu dan akhirnya menikah. Memang kisah pernikahan antara Yusuf AS dan Zulaikha ini tak dimuat dalam Al-qur’an termasuk juga dengan nama wanitanya sebagai Zulaikha juga tidak disebutkan dalam Al-quran. Namun melalui Ulama tafsir salah satunya adalah Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq mencatatkan ada dialog romantis antara Yusuf AS dan Zulaikha tatkala mereka telah menikah.

“Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu”.

Lalu Ra’il menjawab dengan jawaban diplomatis dan romantis,

“Wahai orang yang terpercaya, janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu, ketika kita bertemu dulu jujur dan akuilah bahwa di matamu akupun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan dan segalanya aku punya, namun ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan manapun termasuk aku, lantas akupun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu.”

Nabi Yusuf mendapatkan bahwa Ra’il (Zulaikha) masih perawan. Mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak laki laki, Afra’im (Efraim) dan Misya (Manasye). Sebab ia tak pernah di jamaah oleh Al-Aziz suaminya semenjak ia menikah.

***

Jodoh tak akan kemana, kalau memang sudah Allah catatkan berjodoh yakinlah suatu saat cepat atau lambat Allah akan pertemukan dengan caranya. Penting pemahaman ini menjadi renungan untuk kita bersama terlebih bagi mereka yang masih sendiri dan dalam masa-masa menanti, kita bisa saksikan entah berapa banyak laki-laki dan wanita yang mengorbankan ketaatannya pada Allah SWT dengan alasan cinta, takut kehilangan jodohnya, takut jodohnya diambil orang dan seabrek alasan klise lainnya. Yusuf AS mengajarkan kita bagaimana semestinya dalam mencintai, tak ada larangan kita mencintai manusia dan lawan jenis akan tetapi perlu diingat jangan sampai cinta kita pada lawan jenis menodai ketaatan kita pada Allah SWT, selalu jadikan Allah yang pertama dan Allah yang utama InsyaAllah disana kita akan bersua dengan bahagia.

Sumber gambar ilustrasi : google.com 

Sumber :

https://www.elmina.id/jodoh-tak-akan-kemana-memetik-hikmah-dari-kisah-cinta-yusuf-as-dan-zulaikha/

5 Tips Hijrah Bagi Muslimah

Ingin selalu menjadi baik adalah harapan setiap wanita, apalagi yang masih sendiri, karena kebaikan diri berbanding lurus dengan baiknya jodohnya nanti. Jodoh cerminan diri, jika diri kita baik, tentu baik juga jodoh kita tetapi jika diri kita buruk bisa ditebak jodoh kita juga begitu.

Namun untuk selalu menjadi baik dari hari kehari menjadi tantangan tersendiri bagi seorang muslimah. Kami yakin semua muslimah tentu ingin berhijab syari, setiap muslimah tentu ingin beribadah maksimal, setiap muslimah tentu ingin tidak pacaran, setiap muslimah pasti ingin bisa puasa sunnah senin-kamis, puasa ayyamul bidh, setiap muslimah tentu ingin bisa membaca Alquran rutin setiap hari.

Tapi ketika ditanya kenapa belum melakukannya? Jawabannya beragam dan jawaban yang paling familiar adalah mengkambing hitamkan hidayah. Dengan sangat enteng akan menjawab “Belum dapat hidayah” hehe. Setidaknya ada dua hal penting yang mesti kita ketahui tentang proses hijrah ini, proses yang pertama adalah proses yang bisa kita kontrol yaitu segala yang berhubungan dengan ikhtiar kita. Proses kedua adalah proses yang tidak bisa kita kontrol dan datangnya memang dari Allah, ia rahasia, ia ghaib hanya Allah yang tau nah proses yang kedua inilah yang sering disebut hidayah. Lalu yang jadi pertanyaannya apakah kita harus menunggu hidayah dulu untuk berbuat baik? untuk hijrah?, Tentu jelas tidak, kita tidak menunggunya tapi kita menjemputnya, mencarinya. Ini masuk pada bagian pertama yaitu adalah proses atau cara yang bisa kita kontrol, yang bisa usahakan, yang bisa kendalikan. InsyaAllah dengan memperbanyak ikhtiar ini Allah turunkan hidayah itu pada kita, Allah berikan cahaya kebenaran itu pada hati kita, Allah gerakkan kaki, tangan, mata dan seluruh tubuh kita untuk selalu berada dalam ketaataannya. Untuk selalu melaksanakan perintah-perintahnya dan berusaha menjauhi larangannya.

Pada tulisan kali ini ada 5 Tips Hijrah bagi muslimah, kelima tips ini InsyaAllah bisa diikhtiarkan dan mudah, diantaranya adalah :

1. Niat dan Hati yang Ikhlas

Ini adalah hal utama dan pertama yaitu adalah tentang niat, Ketulusan niat, azzam yang benar-benar kuat untuk hijrah, untuk menjadi lebih baik. Salah satu cara untuk memperkuat niat adalah menemukan alasan kuat kenapa kita harus berubah? kenapa kita harus menjadi baik. Contohnya ada yang hijrah ketika Allah selamatkan ia dari sebuah musibah, ada yang ingin hijrah atau berubah ketika ditinggal meninggal oleh orang-orang yang dicintai, ada juga yang hijrah ketika ingin berdoa kepada Allah untuk orang-orang yang tercinta yang lagi sakit keras. Ada juga yang hijrah karena ingin dapat jodoh terbaik, ingin membahagiakan orang yang dicintai, Ingin berjuang meraih ridho Allah dan syurga. Dan tentu sebaik-baiknya alasan adalah untuk mendapatkan ridho Allah semata.

 

2. Bersihkan Hati, Bersihkan Jiwa dan Bersihkan raga.

Terkadang hati kita susah tersentuh oleh hidayah Allah, susah tersentuh oleh nilai-nilai kebenaran adalah ketika hati dan jiwa masih kotor masih ada rasa hasad, dendam, dengki, dongkol serta berbagai macam penyakit hati lainnya. Begitu juga dengan raga kita, raga yang didalamnya dialiri oleh darah yang berasal dari makanan yang tidak halal seperti uang hasil korupsi, riba, serta transaksi-transaksi haram dan transaksi subhat (transakasi abu-abu). Maka sekali lagi perhatikan apapun yang masuk kemulut dan keperut kita, perhatikan setiap rupiah yang masuk kekantong kita. Perhatikan makanan yang kita makan, jika ke mall jangan mudah terpengaruh dengan makanan-makanan yang kelihatannya “keren” brandnya international, namanya aneh-aneh dan harganya selangit tapi belum memiliki sertifikat halal, hati-hati karena bisa jadi itu makanan bercampur dengan barang yang Allah haramkan mungkin itu babi, mungkin itu arak yang banyak ditambah sebagai pelezat makanan.

Maafkan dan meminta maaf, mengikhlaskan sesuatu yang hilang dan meridhoi adalah cara membersihkan hati, sementara membersihkan harta tentu dengan berzakat, memutuskan semua jalan-jalan rezeki yang haram dan syubhat.

3. Akrabkan Diri dengan 3 Mutiara Kehidupan

Ada 3 Mutiara kebaikan yang sering dilupakan, banyak orang galau, tak sedikit yang stress, hidupnya risau, tak berketentuan tapi yang dilakukan adalah mencari solusi kemana-mana. Sibuk konsultasi kesana kemari, bahkan proses mencari solusi itu sendiri menambah stressnya. Ada yang dilupakan dan terlupakan yaitu 3 mutiara kehidupan, yang sangat dekat dengan kita, sangat mudah menjangkaunya, 3 mutiara itu adalah Al-Quran, Masjid dan Sejarah-sejarah orang shaleh terdahulu.

Kalau buat muslimah jadilah pemburu majelis-majelis ilmu yang diadakan dimasjid-masjid, akrabkan diri dengan Al-quran minimal sehari 1 ayat, kalau bisa satu halaman, lebih baik lagi satu juz. Dan yang terakhir baca dan pelajari kisah-kisah dan sejarah wanita sholeha terdahulu, baca kisahnya siti asiyah istri fir’aun yang tetap menjaga ketaatannya meski mendampingi raja yang super kejam sepanjang masa lagi kafir fir’aun, baca juga kisah siti maryam yang menjaga kesuciannya, kisah bunda khadijah, kisah bunda aisyah dan banyak lagi kisah wanita-wanita syurga.

4. Berkumpulah dengan orang-orang shaleha.

“Yang berteman dengan tukang besi maka akan dapat percikan asapnya, begitu juga bagi yang berteman dengan tukang minyak wangi tentu akan dapat juga percikan bau wanginya”. Jika ingin melihat seseorang kita bisa melihat siapa dirinya dan bagaimana karakternya hanya dengan menanyakan siapa temannya?, kalau temannya baik-baik bisa dipastikan dia tentu juga baik-baik begitu juga sebaliknya.

Terkadang niat sudah tulus, keinginan sudah kuat untuk menjadi lebih baik, tapi susah banget untuk memulainya, maka hati-hati karena bisa jadi lingkungan kita yang kurang mendukung, teman-teman kita yang kurang mendukung. Malam minggu kita ngajak ikut kajian ke masjid sementara teman ngajak dugem ya pasti nggak nyambung. So, pindahlah, hijrahlah, cari orang-orang shaleha dan berkumpullah bersama mereka InsyaAllah Allah mudahkan untuk jalan hijrahnya, Allah karuniakan hidayahnya.

5. Hijrah Sekarang tanpa menunda-nunda.

Kebanyakan yang gagal hijrah adalah karena menunda-nunda, setiap kebaikan semestinya disegerakan. Ketika harus bangun subuh tepat waktu biasanya bangun jam setengah tujuh pagi, ketika harus rutin baca Alquran biasanya rutin baca komik, ketika ingin rajin ke masjid biasanya sering kongkow-kongkow bareng teman, mengubah kebiasaan lama dan meninggalkannya  Berat memang, tapi tidak mesti menunggu ringan dulu baru dikerjakan. Paksakan saja, InsyaAllah lama-lama jadi terbiasa, akhirnya jadi biasa lalu jadi kebiasaan.

Ya, Itulah 5 Tips Hijrah bagi muslimah, semoga saudari semua jadi makin sholeha, makin baik amalnya dari hari kehari. Silakan dibagikan pada yang lain, semoga makin menyebar kebaikannya.

Sumber :

https://www.elmina.id/5-tips-hijrah-bagi-muslimah/