Buat Kamu Yang Sering Galau, Wajib Baca Ini

Habis lebaran gini, biasanya undangan berdatangan dari teman-teman. Syawal benar-benar seperti bulan ‘berbuka’ untuk mereka yang ‘berpuasa’. Iya, apalagi kalau bukan menikah.

Kadang ada sedih menyelisip di relung hati kita, “Giliranku kapan ya?”. Begitu jiwa ini sering bertanya dan entah kapan datang jawabannya. Si galau datang lagiii gak pergi-pergi.

Kalau sudah begini enaknya menyepi menyendiri. Baring-baring di kamar, pasang earphone, putar lagu sendu, dan.. yeay, hujan! Pas banget bikin suasana semakin romantis melankolis mengiris-iris.

Well, well, kalo sudah begini, siapa sebenarnya yang bikin si galau awet menemani? Gimana gak jadi galau terus-terusan kalau kitanya memang tak mau beranjak dari situasi tersebut? Jangan-jangan kita memang pribadi yang senang bergalau ria. Selamat deh ya, waktumu terbuang, perasaanmu super mellow meratapi diri, dan asli gak produktif abis.

Trus gimana donk biar kita berubah, gak sering-sering galau negatif macam ini? Yok deh simak dulu tipsnya.

  1. Berhenti Mendengarkan Lagu Galau

“Hanya kepedihan / Yang s’lalu datang menertawakanku

Engkau belahan jiwa / Tega menari indah di atas tangisanku…”

Buat kamu yang masih suka dengerin lagu-lagu galau, berlirik cengeng, bernada sendu mendayu-dayu, aduuuuh… berhentiii, berhenti!

Lagu kayak gitu cuma bikin jiwa kamu lemah, hati kamu makin gundah, dan airmata bertambah-tambah. Hati-hati dengan apa yang kita dengar. Terlebih lagi mendengarkan lagu yang melibatkan emosi mendalam, sudah pasti akan tertanam di alam bawah sadar. Percayakah kamu bahwa perasaan dapat menarik hal-hal sejenis terjadi? Jika kita bahagia, maka kita akan menarik kebahagiaan di sekeliling kita. Begitu pula halnya jika kita sedih melulu, segala kemalangan biasanya senang mendekat padamu.

Mulai sekarang berhentilah melemahkan diri. Stop dengerin lagu-lagu cengeng ya!

  1. Hindari Sering Bergaul Dengan Orang Galau

Energi itu tular-menular. Maka pastikan sekelilingmu penuh dengan energi positif. Deket-deket orang yang sering galau biasanya jadi nular lho. Makanya kalau temenmu banyakan yang suka galau, hati-hati deh. Bisa dipastikan kamu akan mirip-mirip seperti mereka juga.

Lalu gimana kalau kita memang sering jadi tempat curhat? Kan ketumpahan galau mulu..

Gampang, kuncinya kita selalu fokus pada solusi. Sehingga setiap curhatan menemukan penyelesaiannya, gak cuma langganan dicurhatin doang. Bosen kan dicurhatin itu lagi-itu lagi setiap hari?

  1. Ikut Banyak Kegiatan Positif

Yang bikin setiap masalah kepikiran terus dan bikin kita menggalau biasanya karena kita banyak waktu luang. Coba aja, begitu kita senggang, kita akan sering kepikiran si dia. Putusin gak ya.. tapi kangen.. tapi takut bermaksiat sama Allah.. en de blab la bla. Wah, peluang banget buat syetan memainkan panah-panah beracunnya dalam pikiran kita.

So daripada kamu buka gerbang hati buat bergalau ria, buruan cari kesibukan yang positif. Ikutlah ekskul, kepanitiaan di kampus, komunitas remaja masjid, organisasi, les dan sebagainya. Insyaa Allah kalau kita sibuk dengan kebaikan, hati gak akan mudah galau.

  1. Rajin Datang Pengajian Rutin

Yang ini sudah pasti jadi nutrisi hati. Iman terjaga, taqwa dipelihara. Kok bisa?

Iya donk, sebab dengan datang pengajian rutin, ruhiyah kita akan ter-charge terus. Kita diingatkan berulang kali tentang akhirat. Tentang dunia yang cuma sementara. Tentang hal-hal yang jauh lebih penting daripada mikirin si dia. Hidup ini singkat, Dear. Dan iman itu naik dan turun. Makanya kita perlu lingkungan kondusif yang menjaga agar iman itu meningkat. Jika kamu belum temukan kelompok pengajian rutin, carilah. Temukan guru atau kakak pembimbing yang bisa menjadi tempat kita bertanya, curhat, juga saudara-saudara seiman yang saling mengingatkan.

Okay, coba diterapin ya. Mudah-mudahan penyakit galau negatif itu cepat hilang dari pribadi kita. Galaulah yang positif. Galau mikirin ummat yang  sedang tertimpa masalah, galau soal membalas kasih orangtua, dan semua yang bernilai manfaat. Siap? Yuk!

picture : https://id.pinterest.com/pin/103301385174833550/

 

Sumber :

https://www.elmina.id/buat-kamu-yang-sering-galau-wajib-baca-ini/

Advertisements

Jodoh Tak Akan Kemana, Memetik Hikmah Dari Kisah Cinta Yusuf AS dan Zulaikha…

Jodoh tak akan kemana, mungkin istilah ini sudah tak asing lagi bagi kita semua. Jika kita melihat keluar, sangat banyak sekali orang yang sudah saling mencintai (baca : pacaran ) dalam jangka waktu yang lama namun pada akhirnya gagal menikah padahal sudah saling berjanji, saling membangun komitmen dan orang tuapun sudah saling kenal. Namun disisi lain tak sedikit juga yang awalnya tidak saling mengenal namun Allah pertemukan dalam ikatan suci pernikahan, ya mereka berjodoh.

Jodoh tak akan kemana, kalau memang bukan jodohnya apapun dan bagaimanapun mengusahakannya Allah selalu punya cara yang indah untuk tidak mempertemukannya. Begitu pula sebaliknya, jika memang sudah berjodoh bagaimanapun jauhnya jarak, tak mengenal sekalipun Allah juga selalu punya cara yang indah untuk mempertemukannya.

Jodoh tak akan kemana, ada kisah menarik yang diabadikan dalam Al-quran yaitu dari kisah Nabi Yusuf AS. Kita akan memetik hikmah dari satu episode kehidupan Nabiyullah Yusuf AS ini yaitu kehidupan percintaannya.

****

Saat ketaatan pada Allah selalu menjadi landasan dalam mencinta

“Dan wanita (zulaikha) yang yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata ‘Marilah kesini, ‘Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik, Sesungguhnya orang – orang zalim tiada akan beruntung.” (Q.S : Yusuf : 30)

Yusuf AS, adalah seorang pemuda yang dikenal sejarah sebagai laki-laki yang sangat tampan hingga ketampanannya ini begitu mempesona banyak wanita salah satunya adalah istri majikannya yang lebih dikenal dengan nama Zulaikha. Para ulama tafsir menyebutkan usia Yusuf AS saat tinggal di istana berkisar antara 20 – 25 tahun. Jika ditilik dari usianya kita bisa bayangkan anak muda dengan usianya ini tentu saat-saatnya syahwat bergejolak tinggi, terlebih lagi ia hadir di negeri asing dimana statusnya disana hanya sebagai seorang budak yang diperjual belikan, status terendah dalam strata masyarakat kala itu. Ibnu Taimiyah mengungkapkan, “Orang asing itu sulit menghindarkan diri dari perbuatan jahat” , namun ternyata tidak dengan Nabiyullah Yusuf AS, Yusuf AS mampu menolak ajakan dari zulaikha meskipun tak ada siapa-siapa di istana hanya mereka berdua serta semua pintu-pintupun sudah ditutup oleh Zulaikha, ia mampu mencegah dirinya dari ajakan maksiat dari zulaikha yang kala itu juga sangat cantik dan menarik. Saat itu Yusuf berkata “Aku berlindung kepada Allah”, dan Allahpun menjaga dirinya dari kemaksiatan, ia lolos dari ujian iman tersebut.

Cinta itu tentang pilihan, dan Yusuf AS memilih ketaatan kepada Allah SWT, ia menerima resiko atas penolakan terhadap majikannya tersebut yang dalam singkat cerita pada akhirnya Yusuf di penjara.

Jodoh tak akan kemana, Allah punya cara yang indah untuk mempertemukannya kembali

Setelah beberapa waktu Yusuf AS menjalani hukumannya di penjara, tibalah saatnya ia dibebaskan banyak kisah menarik disini bermula dari menafsirkan mimpi hingga akhirnya dipercaya menjadi bendaharawan negara dan pada akhirnya menjadi raja menggantikan suami Zulaikha ketika ia telah meninggal dunia.

Saat inilah Yusuf dan Zulaikhapun bertemu dan akhirnya menikah. Memang kisah pernikahan antara Yusuf AS dan Zulaikha ini tak dimuat dalam Al-qur’an termasuk juga dengan nama wanitanya sebagai Zulaikha juga tidak disebutkan dalam Al-quran. Namun melalui Ulama tafsir salah satunya adalah Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq mencatatkan ada dialog romantis antara Yusuf AS dan Zulaikha tatkala mereka telah menikah.

“Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu”.

Lalu Ra’il menjawab dengan jawaban diplomatis dan romantis,

“Wahai orang yang terpercaya, janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu, ketika kita bertemu dulu jujur dan akuilah bahwa di matamu akupun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan dan segalanya aku punya, namun ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan manapun termasuk aku, lantas akupun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu.”

Nabi Yusuf mendapatkan bahwa Ra’il (Zulaikha) masih perawan. Mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak laki laki, Afra’im (Efraim) dan Misya (Manasye). Sebab ia tak pernah di jamaah oleh Al-Aziz suaminya semenjak ia menikah.

***

Jodoh tak akan kemana, kalau memang sudah Allah catatkan berjodoh yakinlah suatu saat cepat atau lambat Allah akan pertemukan dengan caranya. Penting pemahaman ini menjadi renungan untuk kita bersama terlebih bagi mereka yang masih sendiri dan dalam masa-masa menanti, kita bisa saksikan entah berapa banyak laki-laki dan wanita yang mengorbankan ketaatannya pada Allah SWT dengan alasan cinta, takut kehilangan jodohnya, takut jodohnya diambil orang dan seabrek alasan klise lainnya. Yusuf AS mengajarkan kita bagaimana semestinya dalam mencintai, tak ada larangan kita mencintai manusia dan lawan jenis akan tetapi perlu diingat jangan sampai cinta kita pada lawan jenis menodai ketaatan kita pada Allah SWT, selalu jadikan Allah yang pertama dan Allah yang utama InsyaAllah disana kita akan bersua dengan bahagia.

Sumber gambar ilustrasi : google.com 

Sumber :

https://www.elmina.id/jodoh-tak-akan-kemana-memetik-hikmah-dari-kisah-cinta-yusuf-as-dan-zulaikha/

5 Tips Hijrah Bagi Muslimah

Ingin selalu menjadi baik adalah harapan setiap wanita, apalagi yang masih sendiri, karena kebaikan diri berbanding lurus dengan baiknya jodohnya nanti. Jodoh cerminan diri, jika diri kita baik, tentu baik juga jodoh kita tetapi jika diri kita buruk bisa ditebak jodoh kita juga begitu.

Namun untuk selalu menjadi baik dari hari kehari menjadi tantangan tersendiri bagi seorang muslimah. Kami yakin semua muslimah tentu ingin berhijab syari, setiap muslimah tentu ingin beribadah maksimal, setiap muslimah tentu ingin tidak pacaran, setiap muslimah pasti ingin bisa puasa sunnah senin-kamis, puasa ayyamul bidh, setiap muslimah tentu ingin bisa membaca Alquran rutin setiap hari.

Tapi ketika ditanya kenapa belum melakukannya? Jawabannya beragam dan jawaban yang paling familiar adalah mengkambing hitamkan hidayah. Dengan sangat enteng akan menjawab “Belum dapat hidayah” hehe. Setidaknya ada dua hal penting yang mesti kita ketahui tentang proses hijrah ini, proses yang pertama adalah proses yang bisa kita kontrol yaitu segala yang berhubungan dengan ikhtiar kita. Proses kedua adalah proses yang tidak bisa kita kontrol dan datangnya memang dari Allah, ia rahasia, ia ghaib hanya Allah yang tau nah proses yang kedua inilah yang sering disebut hidayah. Lalu yang jadi pertanyaannya apakah kita harus menunggu hidayah dulu untuk berbuat baik? untuk hijrah?, Tentu jelas tidak, kita tidak menunggunya tapi kita menjemputnya, mencarinya. Ini masuk pada bagian pertama yaitu adalah proses atau cara yang bisa kita kontrol, yang bisa usahakan, yang bisa kendalikan. InsyaAllah dengan memperbanyak ikhtiar ini Allah turunkan hidayah itu pada kita, Allah berikan cahaya kebenaran itu pada hati kita, Allah gerakkan kaki, tangan, mata dan seluruh tubuh kita untuk selalu berada dalam ketaataannya. Untuk selalu melaksanakan perintah-perintahnya dan berusaha menjauhi larangannya.

Pada tulisan kali ini ada 5 Tips Hijrah bagi muslimah, kelima tips ini InsyaAllah bisa diikhtiarkan dan mudah, diantaranya adalah :

1. Niat dan Hati yang Ikhlas

Ini adalah hal utama dan pertama yaitu adalah tentang niat, Ketulusan niat, azzam yang benar-benar kuat untuk hijrah, untuk menjadi lebih baik. Salah satu cara untuk memperkuat niat adalah menemukan alasan kuat kenapa kita harus berubah? kenapa kita harus menjadi baik. Contohnya ada yang hijrah ketika Allah selamatkan ia dari sebuah musibah, ada yang ingin hijrah atau berubah ketika ditinggal meninggal oleh orang-orang yang dicintai, ada juga yang hijrah ketika ingin berdoa kepada Allah untuk orang-orang yang tercinta yang lagi sakit keras. Ada juga yang hijrah karena ingin dapat jodoh terbaik, ingin membahagiakan orang yang dicintai, Ingin berjuang meraih ridho Allah dan syurga. Dan tentu sebaik-baiknya alasan adalah untuk mendapatkan ridho Allah semata.

 

2. Bersihkan Hati, Bersihkan Jiwa dan Bersihkan raga.

Terkadang hati kita susah tersentuh oleh hidayah Allah, susah tersentuh oleh nilai-nilai kebenaran adalah ketika hati dan jiwa masih kotor masih ada rasa hasad, dendam, dengki, dongkol serta berbagai macam penyakit hati lainnya. Begitu juga dengan raga kita, raga yang didalamnya dialiri oleh darah yang berasal dari makanan yang tidak halal seperti uang hasil korupsi, riba, serta transaksi-transaksi haram dan transaksi subhat (transakasi abu-abu). Maka sekali lagi perhatikan apapun yang masuk kemulut dan keperut kita, perhatikan setiap rupiah yang masuk kekantong kita. Perhatikan makanan yang kita makan, jika ke mall jangan mudah terpengaruh dengan makanan-makanan yang kelihatannya “keren” brandnya international, namanya aneh-aneh dan harganya selangit tapi belum memiliki sertifikat halal, hati-hati karena bisa jadi itu makanan bercampur dengan barang yang Allah haramkan mungkin itu babi, mungkin itu arak yang banyak ditambah sebagai pelezat makanan.

Maafkan dan meminta maaf, mengikhlaskan sesuatu yang hilang dan meridhoi adalah cara membersihkan hati, sementara membersihkan harta tentu dengan berzakat, memutuskan semua jalan-jalan rezeki yang haram dan syubhat.

3. Akrabkan Diri dengan 3 Mutiara Kehidupan

Ada 3 Mutiara kebaikan yang sering dilupakan, banyak orang galau, tak sedikit yang stress, hidupnya risau, tak berketentuan tapi yang dilakukan adalah mencari solusi kemana-mana. Sibuk konsultasi kesana kemari, bahkan proses mencari solusi itu sendiri menambah stressnya. Ada yang dilupakan dan terlupakan yaitu 3 mutiara kehidupan, yang sangat dekat dengan kita, sangat mudah menjangkaunya, 3 mutiara itu adalah Al-Quran, Masjid dan Sejarah-sejarah orang shaleh terdahulu.

Kalau buat muslimah jadilah pemburu majelis-majelis ilmu yang diadakan dimasjid-masjid, akrabkan diri dengan Al-quran minimal sehari 1 ayat, kalau bisa satu halaman, lebih baik lagi satu juz. Dan yang terakhir baca dan pelajari kisah-kisah dan sejarah wanita sholeha terdahulu, baca kisahnya siti asiyah istri fir’aun yang tetap menjaga ketaatannya meski mendampingi raja yang super kejam sepanjang masa lagi kafir fir’aun, baca juga kisah siti maryam yang menjaga kesuciannya, kisah bunda khadijah, kisah bunda aisyah dan banyak lagi kisah wanita-wanita syurga.

4. Berkumpulah dengan orang-orang shaleha.

“Yang berteman dengan tukang besi maka akan dapat percikan asapnya, begitu juga bagi yang berteman dengan tukang minyak wangi tentu akan dapat juga percikan bau wanginya”. Jika ingin melihat seseorang kita bisa melihat siapa dirinya dan bagaimana karakternya hanya dengan menanyakan siapa temannya?, kalau temannya baik-baik bisa dipastikan dia tentu juga baik-baik begitu juga sebaliknya.

Terkadang niat sudah tulus, keinginan sudah kuat untuk menjadi lebih baik, tapi susah banget untuk memulainya, maka hati-hati karena bisa jadi lingkungan kita yang kurang mendukung, teman-teman kita yang kurang mendukung. Malam minggu kita ngajak ikut kajian ke masjid sementara teman ngajak dugem ya pasti nggak nyambung. So, pindahlah, hijrahlah, cari orang-orang shaleha dan berkumpullah bersama mereka InsyaAllah Allah mudahkan untuk jalan hijrahnya, Allah karuniakan hidayahnya.

5. Hijrah Sekarang tanpa menunda-nunda.

Kebanyakan yang gagal hijrah adalah karena menunda-nunda, setiap kebaikan semestinya disegerakan. Ketika harus bangun subuh tepat waktu biasanya bangun jam setengah tujuh pagi, ketika harus rutin baca Alquran biasanya rutin baca komik, ketika ingin rajin ke masjid biasanya sering kongkow-kongkow bareng teman, mengubah kebiasaan lama dan meninggalkannya  Berat memang, tapi tidak mesti menunggu ringan dulu baru dikerjakan. Paksakan saja, InsyaAllah lama-lama jadi terbiasa, akhirnya jadi biasa lalu jadi kebiasaan.

Ya, Itulah 5 Tips Hijrah bagi muslimah, semoga saudari semua jadi makin sholeha, makin baik amalnya dari hari kehari. Silakan dibagikan pada yang lain, semoga makin menyebar kebaikannya.

Sumber :

https://www.elmina.id/5-tips-hijrah-bagi-muslimah/

Jangan Sampai Cantikmu Jadi Asbab Dosa bagi laki-laki

“Subhanallah, Cantiknya”

“I Like it..”

“Cakep”

“Geulisnya euuy”

 

Ya, itulah beberapa komentar di kolom komentar facebook ketika ada seorang wanita mengunggah foto selfienya ke sosial media, dan rata-rata yang memberikan komentar adalah laki-laki. Apalagi jika foto yang diunggah adalah dengan gaya tertentu yang cenderung aneh-aneh seperti mulut yang dimonyong-monyongkan. Ditambah lagi dengan pakaian yang mungkin “rada-rada seksi” tentu menambah daya tarik lagi bagi mata laki-laki yang melihatnya.

Kemajuan teknologi  smartphone dengan fitur-fiturnya yang canggih seperti fitur kamera, fitur video, fitur koneksi akses ke berbagai sosial media. Ditambah lagi dengan harganya yang relatif murah sehingga smartphone ini bisa dimiliki oleh siapa saja. Fitur-fitur pendukungnya menumbuhkan virus narsisme bagi setiap penggunanya, keinginan untuk selalu memberi tahu kedunia setiap aktivitasnya, sedang dimana, sama siapa dan lagi apa. “No pic Hoax” salah satu istilah di sosial media jika kita memposting sesuatu tanpa menyertai foto, sehingga aktivitas memposting foto kesosial media menjadi ritual wajib khususnya bagi generasi remaja dan anak-anak yang baru beranjak dewasa, ajang eksis agar dunia tahu keberadaan dirinya.

Lagi jalan update status “Lagi otw nih ke bogor disertai foto jalan”

Udah nyampe update status lagi “Alhamudulillah sudah sampai nih disertai foto selfie angkat jari 2 keatas”

Mau makan update status lagi “Orek tempenya siap disantap nih disertai foto sepiring nasih disertai orek tempe”

Ketemu teman update status lagi, masuk toilet update status lagi dan foto selfie lagi, dan bla bla seterusnya.

Sepertinya capek banget ya kehidupannya?, iya benar.hehe. Sudahlah biar mereka nikmati sampai lelah.

Kali ini kita tidak akan bahas secara panjang lebar tentang fenomena diatas, tapi kita khususkan untuk muslimah, karema memang mayoritas korban narsisme dan eksisme ini adalah wanita-wanita muslimah. Bagi seorang muslimah kecantikannya, indahnya tubuhnya serta semua yang ada dalam dirinya adalah perhiasan, bak gula ia memiliki daya tarik yang kuat bagi semut, begitu jugalah dengan muslimah, ia memiliki daya magnetic, yang tentu akan menarik mata laki-laki untuk melihatnya.

Setiap laki-laki normal tentu akan tertarik jika melihat ada wanita yang cantik, seksi dan sejenisnya karena memang itu fitrahnya, karena memang rasa itu Allah yang menciptakan. Daya tarik itu tak hanya sekedar ucapan “Wow cantik”, tak hanya sebatas kata-kata itu tapi kecantikan seorang wanita yang ia lihat bisa  bisa menggetarkan naluri syahwatnya, membuat ia berangan-angan tentang wanita tersebut. Jelas hal itu akan jadi maksiat bagi dirinya.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An-Nuur : 30-31).

Disini kita tidak akan bahas tentang apa hukumnya update status ataupun itu posting foto disosial media, karena pembahasan itu tentu akan panjang karena bicara hukum, dan kami juga tentu tidak tau apa motif setiap orang itu narsis dan eksis disosial media tentu hanya dia dan Allah yang tau pasti tentang motifnya. Allah memerintahkan laki-laki untuk menundukkan pandangannya, begitu juga Allah memerintahkan wanita agar melindungi dan menjaga perhiasannya. Tujuannya agar ada saling menjaga antara laki-laki dan wanita, laki-laki berusaha maksimal untuk menundukkan pandangan dari wanita, wanita membantu laki-laki dengan berpenampilan yang tidak menggoda mata laki-laki melihatnya.

Sementara ketika seorang muslimah mengupload fotonya ke sosial media apakah itu BBM, Twitter, facebook atau instagram tentu akan memancing ketertarikan bagi laki-laki. Ada laki-laki yang sudah mengerti tentang menjaga pandangan mereka tentu berusaha untuk tidak melihatnya, tapi banyak juga yang tau tentang menundukkan pandangan tapi susah untuk menjaganya sehingga mudah terpedaya, penasaran dengan foto wanita tersebut, akhirnya “klik”, like dan komentar bahkan ada juga yang sampai share foto tersebut.

Ketika seseorang bermaksiat, ketika seseorang muncul syahwatnya gara-gara fotomu tentu akan menjadi dosa bagi yang melihatnya, lalu bagi yang punya foto?, dosanya tentu lebih banyak, ia menjadi asbab dosa bagi laki-laki yang melihat. Apakah yang melihat hanya satu orang laki-laki?, tentu tidak, semakin cantik, semakin menarik foto tersebut semakin banyak yang tau, semakin banyak yang melihat. Fotonya menjadi viral, tapi viral kemaksiatan.

Wanita itu cantik, bahkan setiap wanita cantik, sudah semestinyalah setiap wanita muslimah  untuk menjaga kecantikannya, menjaga dirinya, karena dengan menjaga dirinya, ia juga ikut menjaga mata laki-laki yang melihatnya.Jangan sampai fotomu menjadi viral kemaksiatan, jangan sampai fotomu jadi asbab dosa bagi yang melihatnya.Jaga dan simpan kecantikanmu hanya untuk orang yang halal melihatnya.Ya, dia adalah suamimu.Tidak perlu seisi jagat raya tau tentang kecantikanmu.

Semoga Bermanfaat, silakan dibagikan pada muslimah lainnya.

 

Sumber :

https://www.elmina.id/jangan-sampai-cantikmu-jadi-asbab-dosa-bagi-laki-laki/

9 Kiat Agar Tidak Terjerumus Dalam Kelamnya Zina

siluet-ikhwan-akhwat

بسم الله الرحمن الرحيم

Senin, 03 Mei 2010 09:00 oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Segala puji yang terbaik hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita sudah ketahui bersama bagaimanakah kehidupan pemuda lajang saat ini. Pergaulan bebas bukanlah suatu yang asing lagi di tengah-tengah mereka. Tidak memiliki kekasih dianggap tabu di tengah-tengah mereka. Hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri pun seringkali terjadi. Bahkan ada yang sampai putus sekolah gara-gara masalah ini. Sungguh, inilah tanda semakin dekatnya hancur dunia.

Dalam tulisan kali ini, kami akan berusaha memberikan tips-tips mudah kepada segenap pemuda dan kaum muslimin secara umum agar  mereka bisa menjauhkan diri dari bahaya yang satu ini yaitu zina. Semoga Allah beri kepahaman.

Pertama: Ketahuilah Bahaya Zina

Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.

Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,

ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

“Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ

“Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.”[2]

Inilah besarnya bahaya zina. Oleh karenanya, syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Jika seseorang mengetahui bahaya zina dan akibatnya, seharusnya setiap orang semakin takut pada Allah agar tidak terjerumus dalam perbuatan tersebut. Rasa takut pada Allah dan siksaan-Nya yang nanti akan membuat seseorang tidak terjerumus di dalamnya.

Kedua: Rajin Menundukkan Pandangan

Seringnya melihat lawan jenis dengan pandangan penuh syahwat, inilah panah setan yang paling mudah mengantarkan pada maksiat yang lebih parah. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An Nur: 30-31)

Allah Ta’ala juga menerangkan bahwa setiap insan akan ditanya apa saja yang telah ia lihat, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram.

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ »

“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)

Ketiga: Menjauhi Campur Baur (Ikhtilath) yang Diharamkan

Di antara dalil yang menunjukkan haramnya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) adalah hadits-hadits berikut.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ » . فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ « الْحَمْوُ الْمَوْتُ »

“Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ » . فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِى خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِى غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا . قَالَ « ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ »

“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahromnya.” Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama isterimu.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)

Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ

”Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171)

Keempat: Wanita Hendaklah Meninggalkan Tabarruj

Inilah yang diperintahkan bagi wanita muslimah. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[3]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mengajak orang lain untuk tidak taat, dirinya sendiri jauh dari ketaatan, kepalanya seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Kelima: Berhijab Sempurna di Hadapan Pria

Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Konteks pembicaraan dalam ayat ini adalah khusus untuk istri Nabi. Namun illah dalam ayat tersebut dimaksudkan umum sehingga hukumnya pun berlaku umum pada yang lainnya. Illah yang dimaksud adalah,

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.

Juga kalau kita perhatikan kelanjutan ayat, maka hijab tersebut berlaku bagi wanita mukmin lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (QS. Al Ahzab: 59)

Ditambah lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin Mas’ud,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi no. 1173. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keenam: Wanita Hendaklah Betah Tinggal Di Rumah

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi no. 1173, shahih)

Dalam ajaran Islam pun, shalat wanita lebih baik di rumah. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di kamarnya, dan shalat seorang wanita di rumahnya yang kecil lebih utama baginya daripada dirumahnya.” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)

Ketujuh: Hendaklah Wanita Menjalani Berbagai Adab Ketika Keluar Rumah

Di antara adab yang mesti diperhatikan oleh wanita adalah:

Pertama: Tidak memakai harum-haruman ketika keluar rumah.

Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ

“Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad 4/413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

Kedua: Hendaklah wanita benar-benar menutup aurat dengan sempurna ketika memasuki rumah yang terdapat kaum laki-laki

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Abu Al Malih Al Hudzali bahwa para wanita dari penduduk Himsha pernah meminta izin untuk menemui ‘Asiyah, maka dia berkata; “Mungkin kalian adalah para wanita yang suka masuk ke pemandian umum, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِى غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ

“Wanita mana pun yang meletakkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka ia telah menghancurkan tirai antara dia dan Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 3750. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketiga: Hendaklah wanita berhias diri dengan sifat malu

Allah Ta’ala berfirman mengenai para wanita yang mendatangi Nabi Musa ‘alaihis salam,

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.” (QS. Al Qoshshosh: 25)

Keempat: Tidak bercampur baur dengan para pria

Allah Ta’ala menceritakan mengenai dua wanita yang mendatangi Musa,

وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. (QS. Al Qoshshosh: 23)

Kedelapan: Menghindari Jabat Tangan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Lebih baik kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum dari besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thobroni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat As Silsilah Ash Shohihah 226)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925). Jika kita melihat pada hadits ini, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul: “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram.”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkan tidak menyalami wanita –non mahrom- dalam kondisi yang seharusnya beliau dituntut bersalaman sekalipun semacam baiat.

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dari Umaimah binti Ruqaiqah berkata; “Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika para wanita membaiatnya untuk Islam. Kami mengatakan; ‘Wahai Rasulullah, kami membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendatangi kejahatan yang telah kami lakukan antara kedua tangan dan kaki kami, dan tidak bermaksiat terhadap anda dalam kebaikan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan: “Semampu dan sekuat kalian.” Umaimah berkata, “Kami menyahutnya, “Allah dan Rasul-Nya lebih kami sayangi daripada diri kami. Wahai Rasulullah, kemarilah, kami akan membaiatmu.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ مِثْلِ قَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.” (HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kesembilan: Hendaknya Wanita Meninggalkan Tutur Kata yang Mendayu-dayu

Allah Ta’ala berfirman,

فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32) Yang dimaksudkan “janganlah kamu tunduk dalam berbicara”, As Sudi mengatakan, “Janganlah wanita mendayu-dayukan kata-katanya ketika bercakap-cakap dengan kaum pria.”[2]

Inilah beberapa jalan yang jika dijalankan dengan baik akan menjauhkan kita dari pebuatan zina yang keji. Hanya Allah yang memberi taufik bagi siapa saja yang mau merenungkan hal ini.[3]

Selesai disusun atas nikmat Allah di Panggang-GK, 19 Jumadil Awwal 1431 H (03/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber :

http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/3025-9-kiat-agar-tidak-terjerumus-dalam-kelamnya-zina-seri-1.html

[1] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.

[2] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi’ Al Islam.

NB

Saya suka sekali postingan ini sehingga saya memposting ulang di blog saya. 🙂