Mengenang Pak Moh (Almarhum)

Namanya pak Mohardi. Biasanya dipanggil Pak Moh.

Aku pertama kali mengenal beliau ketika pelajaran Penjas di kelas satu. Ketika itu beliau masuk kedalam kelas dan beliau memberikan beberapa peraturan di pelajarannya.

Setelah lama mengenal beliau, aku menyadari beliau adalah guru yang hebat dan berwawasan luas. Dengan beliaulah aku benar-benar seperti belajar Penjas, bukan hanya sekedar olahraga, namun beliau juga memberikan edukasi seputar kesehatan jasmani ketika belajar di kelas.

Seperti ketika beliau berkata bahwa daging ayam lebih cepat terurai di perut dibandingkan daging sapi.

Beliau mengajarkan kami untuk berpikir kritis terhadap masalah seputar kesehatan jasmani.

Walau begitu, aku selalu bingung, mengapa beliau menjadi guru Olahraga padahal di belakang namanya tertera gelar M.IT.

Sayangnya di kelas dua beliau tidak mengajar penjas di kelasku.

Setelah naik kelas tiga, beliau kembali mengajar Penjas. Jujur aku senang sekali bertemu saat tahu akan belajar bersama beliau. Kabar gembiranya lagi, beliau menjadi Wali Kelasku. Katanya sih gak sengaja, sebenarnya beliau menjadi wali kelas IIS dan bu Komariah yang menjadi Wali Kelasku, namun entah kenapa bu Komariah berganti menjadi wali Kelas IIS dan pak Muh menjadi wali Kelasku.

Kabar gembira itu terjadi di suatu hari.

Seperti kebiasannya, ia masuk ke kelas. Pandangannya menerawang, seketika terlihat agak galak. Namun kegalakan itu mencair ketika ia menyengir.

Saat itu beliau bilang. Inilah pertama kalinya ia menjadi wali kelas XII sekaligus wali kelas MIA sepanjang mengajar di Smansa, karena dahulunya ia selalu ditugaskan menjadi Wali Kelas X dan selalu kelas IIS, entah apa alasannya. Singkatnya, ia berkata bahwa akhirnya ia naik kelas juga.

Dan begitulah seterusnya. Di buku batas kelasku, tertulis nama pak Mohardi.

Pak Moh seakan memberi nuansa baru dikelas. Beliau selalu masuk ketika jadwal budi pekerti pagi berlangsung (setiap hari selasa sampai kamis). Aku seakan merasa mempunyai orang tua beneran. Maklum, di kelas dua wali kelasku adalah non muslim sehingga ketika kelas lain menjalankan budi pekerti di dampingin wali kelasnya, kelasku menjalankan budi pekerti tanpa pembimbing dan sesadarnya. Kadang anggota Rohis juga ngingatin buat budi pekerti ketika yang lain sedang sibuk menggunakan waktu budi pekerti buat ngerjain tugas (saking rajinnya). Namun dalam sebagian pertemuan bu Nani juga masuk untuk memimpin budi Pekerti.

Selain punya peraturan di pelajarannya, pak Moh juga punya peraturan di kelasnya, yaitu kelas kami, XII MIA 4.

“Kalau saya udah masuk kelas, nggak ada yang boleh masuk lagi, apapun alasannya itu”

Itulah alas an kenapa terlihat beberapa anak XII MIA 4 yang duduk didepan kelas ketika kelas lain sedang menjalankan budi pekerti.

“Pokoknya saya mau, kelas ini harus selalu bersih ya. Jadwal piket ada kan ? Kalau kelas ini kotor, saya nggak mau masuk lagi disini”

Dan ini bukan Cuma omongan saja. Pernah disuatu hari, tepatnya hari Rabu, pak Moh masuk kelas, namun ketika ia duduk di meja guru, ia melihat kumpulan sampah sisa menyapu yang belum di bersihkan di bawah sebuah meja, karena ceritanya saat pak Moh datang, temanku sedang piket di dekat meja tersebut. “Itu sampah apa?” Tanya beliau. Beliau pun langsung keluar kelas tanpa mengucapkan kata apa-apa lagi. Seketika itu aku merasa bersalah, karena kebetulan hari itu adalah hari dimana aku ditugaskan untuk piket, namun aku belum piket pagi lantaran datang tepat waktu, tepat ketika bel masuk berbunyi.

Kini pak Moh telah tiada. Tepat hari ini, Minggu, 20 September 2015. Aku mengetahuinya pertama kali di grup Line dewan ambalan Pramuka Smansa. Awalnya kukira yang meninggal adalah orang tua pak Moh, namun bingung juga kenapa teman-teman grup malah shock sendiri. Aku pun membaca jelas-jelas pesan yang disampaikan sebelumnya oleh temanku, Thami. Aku pun terdiam sendiri.

Namun beberapa menit kemudian aku merenung dan menangis juga.

Bagaimana tidak?

Baru hari Kamis lalu kami belajar Penjas dengan Pak Moh. Saat itu kami sedang ambil nilai servis Volli. Beliau pun terlihat biasa-biasa saja. Bahkan sering tersenyum juga. Saat itu beliau memakai kaos yang terdapat tulisan ‘Intel’. Aku seakan teringat kembali tentang kebingunganku akan gelarnya.

Baru senin lalu juga aku belajar Penjas Teori di kelas bersama pak Moh. Namun hari itu tidak ada materi atau presentasi melainkan beliau hanya menyuruh kami mengisi LKS dan beliau duduk di meja guru dan memakai kaca matanya. Beliau terlihat lebih tua ketika memakai kacamata, namun sekaligus terlihat lebih bersahaja. Namun saat itu tampaknya beliau lagi agak marah, mungkin karena isu di kelas kami yang agak tidak mengenakkan, yaitu hilangnya HP salah seorang temanku yang hingga kini tak diketahui siapa pencurinya. Sampai beliau pun menegur salah seorang teman perempuanku yang berisik saat yang lain disuruh mengerjakan LKS. Tak berapa lama setelah itu, beliau keluar sambil memanggil Nico dan Mufid serta Roselyn, mungkin masih membahas tentang isu hilangnya HP temanku, Fitrah.

Bahkan di akhir-akhir hidupnya beliau masih sibuk mencari pelaku yang mencuri HP anak didiknya, namun beliau juga katanya telah tahu siapa-siapa saja yang kemungkinan mencuri HP Fitrah.

Bahkan di akhir hidupnya beliau masih peduli dengan anak didiknya. Kasih seorang guru.

Aku merasa menyesal ketika mengingat kejadian dimana pak Moh keluar dari kelas dan kejadian hilangnya HP Fitrah. Aku seakan ikut membuat pak Moh kecewa.

Masih terngiang-ngiang kata-kata beliau di kelas di suatu hari dimana HP Fitrah hilang.

“Saya hanya ingin meluruskan yang ada di kelas ini. Jika ada kejadian seperti ini, bagaimana kelas ini bisa kompak bila tidak bisa saling menjaga?. Saya anggap tidak ada yang mencuri, mungkin ada yang menyimpankan HP itu.”

Namun sayangnya tetap gak ada yang ngaku.

Dan kini aku juga bingung tentang kelanjutan hariku disekolah.

Kelasku kehilangan bapaknya, orangtuanya. Mungkin, dalam beberapa waktu kedepan, kelasku akan kembali menjalankan budi pekerti tanpa pembimbing disekolah. Mungkin, dalam beberapa waktu kedepan, jam olahragaku akan diisi dengan olahraga bebas terus menerus.

Ketika aku sedang merasakan punya wali kelas yang menyenangkan, sosok wali kelas itu dipanggil Allah.

Tak akan ada lagi seorang bapak yang akan kutemui duduk di dekat pos satpam setiap harinya dengan kacamatanya dan membaca Koran, sambil menunggu anak didiknya lari keliling sekolah.

(kegiatan rutin di sekolahku saat pelajaran penjas berlangusng adalah berlari keliling lingkungan sekolah, pemanasan, dilanjutkan praktek)

Tak akan ada lagi seorang bapak yang akan mengingatkanku untuk menyetor infak mesjid ke koperasi hari Kamis.

“Debby, nanti infak mesjidnya di setor ke bu Nur ya. Setiap hari kamis aja”

“Debby, sudah di setor infak mesjidnya?”

Tak akan ada lagi bapak yang akan memarahi anggota kelasku ketika melihat kelas kotor.

Tak akan ada lagi kudengar suaranya ketika budi pekerti berakhir,

“Ya. Baik. Assalamualaikum”

Tak akan ada lagi bapak yang akan mengelilingi, mengawasi muridnya ketika sedang melakukan pemanasan saat pelajaran olahraga akan dimulai, sambil sesekali menutup hidung seakan mencium bau aneh ketika kami sedang pemanasan dengan mengangkat tangan.

Tak ada lagi guru Penjas senior yang penuh humor disekolahku.

Tak kan lagi kudengar suaranya ketika pemanasan telah berakhir.

“Ya. Baik. Siap…Gerak. Setengah lancang kanan…Gerak. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Walau begitu, beliau akan selalu ada dalam hati kami. Nasihat-nasihat beliau. Peraturan-peraturan beliau. Lembar tugasku yang terdapat tulisan B+ kecil beserta parafnya, paraf terakhir beliau yang aku dapatkan, akan selalu kusimpan.

Aku memang tak begitu mahir ketika disuruh merangkaikan kata doa yang indah.

Namun doaku sama seperti yang lainnya. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang indah di sisi-Nya. Semoga beliau tetap menjadi inspirasi kami, anak didiknya. Beliau akan selalu kami kenang, beliau akan selalu ada di sekolah sekaligus rumah kami, SMA Negeri 1 Batam, karena beliau adalah bapak kami, anggota keluarga besar kami.

Advertisements

Inikah Rasanya Disengat Lebah ?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Halo teman-teman.. udah lama juga nih aku nggak ngisi blog lagi hehe

Kali ini aku ingin cerita nih, tentang pengalaman pertamaku disengat lebah. Pertama dalam hidup.

Kejadian itu bermula tadi pagi, ketika aku ingin mengembalikan buku perpus. Pas aku lagi berdiri di depan kelas dan nanya sesuatu (bahkan aku jadi lupa tadi pagi nanya apaan), tiba-tiba teman-temanku udah berteriak histeris gitu ngeliat aku – lebih tepatnya ngeliat sesuatu di kepalaku. Aku bingung. Beberapa saat kemudian otakku baru ‘ngeh’ dan langsung mengibaskan buku di tanganku ke kepala. Bukuku jatuh berserakan di depan pintu kelas, diikuti oleh sebuah benda yang terbaring menggelepar seperti tak berdaya. Ekornya ada garis-garis kuning. Tak salah lagi. Lebah.

Aku hanya sempat melihat lebah itu selama satu detik, karena detik berikutnya kepalanya nyut-nyutan, nyeriiii banget. Aku lompat-lompat nggak jelas di depan kelas karena sengatan si lebah di kepalaku , berharap dengan melompat sengatannya jadi hilang – karena jujur aku nggak pernah disengat lebah sebelumnya, dulu mungkin pernah, disengat tawon tapi, yang hitam-hitam gitu, ah gataulah aku bedanya lebah sama tawon apa. 😦

Kemudian, temanku Oci datang dan langsung mengajakku ke UKS. Sayangnya di UKS gaada guru. Pak Chaidir, kepala sekolahku yang kebetulan berada disana menyuruhku mengoleskan minyak kayu putih di bekas sengatannya – mungkin karena di UKS gaada minyak tawon. Aku pun menurut. Beberapa saat kemudian, Oci datang sambil membawa air gula hangat, katanya bu Merri (atau bu Korry ya?) menyuruhku mengoleskan air gula itu di bekas sengatannya. Aku pun menurut juga sambil sesekali mendesis karena — ya Allah,, sessakit dan segatal digigit semut api, masih lebih lebih sangat sakit disengat tawon.

Oci bilang aku tinggal di UKS aja. Namun aku gak mau. Ntar kalo aku sendiri gimana ?. Akhirnya aku balik ke kelas. Pas dikelas, efek sakitnya disengat tawon makin bertambah. Awalnya aku masih semangat belajar Matematika Peminatan dengan Pak Aris. Namun lama kelamaan aku jadi kayak orang gila. Pengen teriak-teriak tapi nggak bisa – ya iyalah kan lagi belajar. Akhirnya setelah jam pelajaran MTK Peminatan selesai, aku langsung meluncur ke meja piket untuk izin pulang. Kebetulan mamak juga sudah sampai ke sekolah karena sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada mamak bahwa anak sulungnya ini tersengat lebah, dan tumben-tumbenan mamak jawab ; Jdi mau izin pulang? mamak jemput.

Awalnya gamau, tapi karena tiba-tiba seluruh kepalaku jadi gatal semua- gatau kenapa- akhirnya aku pun memutuskan untuk pulang walau hari ini ada ulangan Fisika. (Hmm, nanti sajalah kuurus masalah itu, kesehatan lebih penting kan ? *edisipembelaandiri *sekalianmauhindarinUHfisika *yanggininihcalonmabateknik?

Dan sekitar pukul 9 akhirnya aku pulang YEY. Awalnya agak nyesel karena ninggalin pelajaran.

Namun beberapa jam kemudian aku nggak nyesal.

Gimana nggak nyesal ?

Setelah sampai dirumah, sekujur tubuhku bengkak-bengkak semua. Kayak digigit nyamuk tadi bekasnya itu lebih lebar, beda dengan gigitan nyamuk yang cuma kecil kecil dan diamaeternya paling setengah senti lah.

Awalnya ku kira ada semut dibajuku, namun beberapa saat kemudian bengkaknya makin banyak. Kata mamak itu darah kotor. Kata bapak (via telepon) itu alergi, sama kayak bapak, karena debby dan bapak sama-sama alergi.

Akhirnya mamak pun ke Apotek dan membeli minyak Tawon serta obat ‘Dextamin’. Entah deh ya fungsinya untuk apa. Setahuku sih mungkin buat alergi, namun anak sekolah yang imut sepertiku ini nggak boleh konsumsi banyak-banyak karena efek jangka panjangnya.

Setelah minum obat, aku memakan bekalku dan tidur. Aku pun tidur satu harian ini. Jam lima aku mengakhiri prosesi tidurku. Rasa nyeri karena sengatannya sudah lumayan berkurang, aku pun ngga ngerti lagi bau rambutku ini, campuran minyak putih, minyak tawon, dan air gula. Bengkak-bengkak nya pun sudah agak mengecil, namun masih ada dan terasa sedikit gatal.

Namun…

Masalah baru muncul, Bagian wajahku sebelah kanan terasa sedikit bengkak dan kelopak mata sebelah kananku juga bengkak, lebih bengkak dari orang bintitan. Rasa gatal di bagian kepala kananku juga masih ada. Agak terasa panas gitu.

Namun sekarang (9.43 PM), Alhamdulillah udah agak berkurang – sedikit.

Setidaknya, ini pelajaran bagiku juga – entah aku juga bingung sebenarnnya kenapa lebah tadi tiba-tiba nyengat aku, apa karena habitatnya di hutan telah rusak sehingga ia menyerangku ?

Yaudah deh. Mungkin hikmahnya aku harus lebih hati-hati, sering-sering ngibas jilbab disekolah biar ga dihinggapin lebah lagi, Atau mungkin membersihkan ruang kelasku agar steril dari lebah sehingga kelangsungan hidup di kelas dapat berjalan dengan makmur.

Btw, kira-kira tadi dikelas jadi ujian Fisika ga ya ? kalo aku minta susulan fisika boleh ga ya? Mengingat pak Awal dengan slogannya “Mending kalian hadir Ulangan tapi nilai Jelek daripada nggak hadir sama sekali”

Semoga saja masih bisa ulangan susulan deh, semoga pak Awal ngerti bahwa hari ini ada seorang anak bangsa yang terpaksa tidak bisa mengikuti pelajaran disekolah dikarenakan bersua dengan seekor lebah di sekolah. Hmm,,,

Sekian dulu ya Teman curhatanku hari ini. Sampai ketemu di lain waktu 🙂 *LambaiTangan

Ceritanya Konsultasi

Ini adalah obrolanku sekitar satu tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas XI. Ceritanya masih buta gitu tentang kuliah, jurusan dan kawan kawannya. Akhirnya chatting deh sama bang Rizwan, mahasiswa jurusan Teknik Nuklir UGM. Abangnya baik dan ramah banget lho. Beberapa bulan yang lalu, saat ada Campus Expo disekolah, bang Rizwan juga kelihatan semangat banget pas ngejelasin ini itu ke teman-teman lain. Hmm, jadi semangat mau masuk UGM. Hehe 😀

21:19 Debby Zalina assalamu’alaikum bang, mau tanya boleh ?

23:22 Rizwan FL boleh” kok, tanya apa?

2015/06/02(Tue)

09:33 Debby Zalina kuliahnya jurusan apa bang ?

13:49 Rizwan FL Teknik Fisika dek,..

16:04 Debby Zalina teknik fisika sama Fmipa fisika bedanya dimana bang?

17:45 Rizwan FL teknik fisika ilmunya lebih banyak di penerapan dan keteknikan dek, mulai dari teknologi kontrol alat, sensor, dll bwt kebutuhan masyarakat

17:46 Rizwan FL kalau abg teknik nuklirnya UGM, jdi lebih ke belajar inti” atom

17:46 Rizwan FL kalau Fisika MIPA itu sekedar ilmupengetahuan murni, kajiannya lebih teoritis..

18:56 Debby Zalina teknik fisika sama nuklir beda ya bang? nanti ada kayak magang2 gitu ?

21:18 Rizwan FL semua ada magangnya dek,

21:19 Rizwan FL tekfis iti lebih konsentrasi ke ilmu penggunaan alatnya, kalau nuklir ke ilmu fisika intinya, tapi juga dapet ilmu” fisikanya..

2015/06/03(Wed)

09:03 Debby Zalina menurut abang bagusnya masuk mipa atau teknik ? kalo teknik juga belajar pengetahuan murninya kan bang?

09:10 Rizwan FL Teknik ngga seribet MIPA, kalau enaknya ya kamu sendiri yg nentuin mau kemana, kalau lbih bagus di teori/prngen nguasai ilmu murninya ambil MIPA, kalau suka aplikasi/keindustri, ambil Teknik

09:13 Debby Zalina ooo gitu.. di ugm banyak alumni smansa juga ga bang?

09:14 Rizwan FL abg kurang tau jga dek, ngga banyak” amat yg abg tau..

09:16 Debby Zalina oohh gitu… Oke deh.. Makasih banyak ya bang infonya.. 😀

09:17 Rizwan FL yaap masama dek..

09:17 Rizwan FL ikut SBM ya dek?

09:17 Debby Zalina masih kelas 2 bang

09:17 Debby Zalina iya kayaknya bang

09:22 Rizwan FL oalah masih kelas 2, abg kira udh lulus, hehe

09:23 Rizwan FL rencana ngambil apa dek?

10:34 Debby Zalina Hehe,, teknik kimia bang..

12:04 Rizwan FL wooww, keren”…

14:17 Debby Zalina hehe..lebih keren teknik nuklir bang..

14:23 Rizwan FL keren apaan,, wkwkwk

14:23 Rizwan FL rencana ngambil dmna?

14:37 Debby Zalina pengen di ugm bang, tapi gatau bisa lolos atau nggak..

14:42 Rizwan FL santai aja dek, optimis..

14:43 Rizwan FL kamu yg penting itu tempetnya di UGM atau konsentrasi ilmunya yg di Teknik Kimia?

14:45 Debby Zalina teknik kimia bang..

14:48 Rizwan FL kenapa teknik kimia?

14:55 Rizwan FL kalau emg prngen tekkim, nanti pas SNM pilih aja tekkim semua, tapi tempatnya beda”

14:55 Rizwan FL yg paling favorit pilihan pertama, terus yg realistis pilihan 3

15:03 Debby Zalina ohh gitu… snm itu jalur undangan ya bang?

15:04 iya dek

15:12 Debby Zalina oh.. Ok bang… makasiih ya bang infonya 😀

15:14 Rizwan FL Yap, sama”…, dtunggu di UGM ya dek..

2016.01.30 Saturday

19:42 Debby Zalina Assalamu’alaikum..

19:42 Debby Zalina bang mau nanya boleh ?

19:42 Debby Zalina abang kemarin pas daftar sbmptn dapat passing gradenya brapa bang?

2016.01.31 Sunday

10:27 Rizwan FL Wa’alaikumsalam, nilai pass itu rahasia panitia sbm Deb, abg sendiri ngga tau

18:18 Debby Zalina oh.. gitu ya bang..okedeh makasih bang

18:34 Rizwan FL Okay, kalo ada yg mau dtanya lgi tanya aja ntar Deb..

18:34 Debby Zalina okee bang..

Kata-kata yang di Bold itu, aaah aku suka banget… Aaamiiinnn. Makasih doa nya bang !

Kelabakan di Hari Ketiga UNBK #FlashBack

Dear my blog.. Mau cerita nih tentang Ujian Nasional yang sedang aku hadapi

Hari Senin lalu, aku mengikuti Ujian Nasional Bahasa Indonesia. Yah, bisa dibilang soal nya ‘lumayan’ lah. Bisa ku kerjain, namun ada juga yang membuat bingung.

Hari Selasa, tepatnya kemarin, aku mengikuti ujian Kimia. Yah… Hmm, bisa dibilang ‘lumayan’ juga lah. Kebetulan pula sebelumnya aku sudah membahas soal-soal UN Kimia PBT yang diadakan hari sebelumnya dan ternyata soalnya hampir seluruhnya mirip. Hanya angka saja yang berbeda.

Hari Rabu, tepatnya hari ini. Aku mengikuti ujian Matematika. Haha. Mate….Mati……Kaaaa yang soal-soalnya itu…. Alhamdulillah lumayan !!

LUMAYAN BIKIN MAMPUS —___—–

Soalnya sebenarnya nggak susah-susah banget. Masuk dalam kategori ‘Lumayan’ dalam arti harfiahnya.

Dan aku nggak bakal nyalahin siapa-siapa. Ini semuanya pure 100% kesalahanku.

Awalnya aku pengen nyalahin sesi ujiannya yang nggak manusiawi. Bayangin, kemarin aku mengikuti ujian kimia sesi 3 yang selesainya jam 4dan keesokan harinya aku dapet ujian sesi 1. Pertama ! Dan sampai dirumah aku nggak belajar karena sudah terlalu lama sendiri… eh ….. sudah terlalu capek. Santai banget kan aku L

Tapi hati putihku berkata bahwa sebenarnya jika aku sudah bersiap belajar dari jauh hari. Jadwal sesi yang tak manusiawi ini sebenarnya nggak ada pengaruhnya.

Dan sebenarnya aku udah belajar dari jauh hari, namun kekurangannya. Aku itu kayak perwujudan peribahasa hangat-hangat tahi ayam. Kadang rajin, kadang nggak, dan akhirnya move on sama pelajaran.

Sampe guruku bilang bahwa bakat move-on ku itu bagus banget, iya, bangus buat ngelupain orang lain yang harusnya kita lupakan, bukan ngelupain pelajaran.

Dan akhirnya ketika tadi udah ujian. Jujur dari lubuk hati paling dalam tanpa ada rekayasa kata-kata dan rendah hati yang terselubung…

Aku mengakui bahwa aku hanya bisa mengerjakan kurang dari 50%.

Beneran… ngga bohong.

Aku lemah banget sama integral, dimensi ruang, trigonometri. Ditambah lagi ada soal yang membingungkan. Ditambah lagi kayaknya tadi aku kerasukan jin yang keganjenan sehingga dikit-dikit ngelihatin pengawas hari ini yang kebetulan ganteng juga.

Eh salah. Aku nggak boleh nyalahin siapapun, termasuk jin keganjenan tadi. #sorryjin

Aku pengen menyesal dan menangis. Oh ayolah. Ini UN ! Anak manusia mana sih yang sanggup dan rela nilai 30 bakal terpampang di SKHUN nya nanti ?!

Dan sekarang aku seakan menyadari bahwa peluangku lolos SNMPTN kecilll banget…lebih kecil dari pada biji zarrah kayaknya.

Aku harus latihan tekanan jantung untuk bersiap-siap menerima bahwa nanti namaku ngga ada di deretan nama-nama siswa Smansa yang lolos SNMPTN.

Baiklah. Nggak papa. Ini Pelajaran. Aku harus mengambil hikmah dari pelajaran ini.

Toh aku nggak boleh down gara-gara MTK. Masih ada ujian biologi, fisika dan bahasa inggris yang menanti.

Aku harus kuat. Mungkin aku memuali UN ini dengan jelek.

Namun aku harus mengakhirinya dengan baik.

Dan bersiap-siap belajar untuk SBMPTN. SNMPTN?! Udah lah. Lupakan saja #moveonSNMPTN

Kata pak Ganda. Orang yang bermental juara itu bukan orang yang sering juara, namun orang yang saat dia jatuh, dia tetap bangkit untuk menang.

4 April 2016