Ulasan Buku “Killer, Nyentrik, Tapi Asik – 1001 Pengalaman dengan Para Dosen”

Guru yang biasa saja memberitahu

Guru yang baik menjelaskan

Guru yang bagus menunjukkan caranya

Tetapi, guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya (William A Ward)

Judul Buku : Killer, Nyentrik, Tapi Asik – 1001 Pengalaman Dengan Para Dosen

Penulis : Nurul Asmayani, dkk

Penerbit : PT Grafindo Media Pratama

Cetakan ke : I (Pertama)

Ukuran : 13 x 19 cm

Jumlah Halaman : 200 halaman

Tahun terbit : 2011

ISBN : 978-602-8458-78-3

Harga : Kebetulan buku perpus, jadi nggak tahu harganya hehe 😀

Kategori : Fiksi

Kehidupan mahasiswa tampak begitu menyenangkan. Kuliah tanpa seragam, mata kuliah yang bisa dipilih sendiri, hingga hiruk pikuk dunia kampus terlihat begitu menarik.

            Ada sebuah komponen di dunia kampus yang tak bisa dihilangkan, yaitu guru yang disebut dosen. Ada dosen killer, jutek, tentu bikin bete dan resah. Namun ada pula dosen yang baik hati, senang membantu mahasiswa dan tak pelit nilai. Maka, mata kulaih yang diampunya bisa dipastikan akan dibanjiri mahasiswa.

            Seperti apa sebenarnya gambaran dosen itu? Buku antologi ini menghadirkan sosok dosen itu lewat kisah-kisah nyata yang dituliskan para penulisnya dari pengalaman nyata. Hadirlah sosok dosen inspiratif, dosen yang membuat jatuh cinta, hingga dosen killer namun ternyata dikemudian hari tetap dikenang.

         Bagaimanakah para penulisnya melalui hari-harinya bersama para dosen yang selalu memberi inspirasi dan motivasi. Atau bagaimanakah penulisnya menyiasati kondisi terjepit ketika berhadapan dengan dosen yang tak menyenangkan. Di buku ini semuanya lengkap dan di ceritakan secara lugas dan bernas.

Yaps. Itulah yang kubaca di sampul belakang buku kecil ini. Aku membalikkannya lagi dan melihat cover lucu bergambar seorang dosen yang memegang penggaris dan sebuah eh seorang cewek berambut pink (ada iya cewek berambut pink?).

Akhirnya aku pun memutuskan untuk membaca buku kecil ini. Lumayan untuk mengganjal perut yang belum sarapan *eh.

Saat membuka lembar pertamanya, aku baru sadar bahwa buku ini dibuat keroyokan oleh beberapa orang penulis. Aku pun membuka halaman selanjutnya yang menyuguhkanku dengan cerpen-cerpen seputar hubungan antara seorang manusia dengan dosennya. Berbagai tipikal dosen yang diceritakan pun semua ada disini, mulai dari yang baik banget sampai yang baik aja *eh.

 

Setelah ku hitung dengan rumus statistika yang dipadukan dengan rumus trigonometri ditambah sedikit campuran rumus termodinamika, akhirnya ku ketahui bahwa di dalam buku ini terdapat 22 cerpen yang semuanya diceritakan dengan bahasa yang santai dan tak jarang membuatku ketawa sendiri. (Bayangin, aku diliatin sama teman gara-gara ketawa sendiri di perpustakaan yang kala itu lagi sepi banget) bahasa yang digunakan dalam buku ini santai banget dan tak jarang mengundang tawa sehingga tidak membuat pembacanya mengantuk.

Dari dua puluh dua cerpen yang ada di buku ini, ada satu buah cerpen yang paling aku sukai, yaitu cerpen berjudul ‘Dosenku Manis Sekali’ karangan Ade Anita. Di dalam cerpen ini, tokoh ‘Aku’ diceritakan diterima di salah satu universitas negeri yang populer di negeri ini, Universitas Indonesia (disini ketertarikanku mulai bangkit). Lalu, tokoh aku pun bercerita tentang gambaran dosen menurut dirinya yang semuanya sama : tua dan sudah berumur. Suatu ketika, saat ia akan menghadiri pertemuan dengan dosen-sebenarnya si Aku males juga sih pengen ikut kuliah umum karena berpikir pasti bakal ketemu dosen tua lagi-, ia bertemu dengan seorang kakak kelas eh senior yang cakep, ganteng, manis, ramah dan baik (aku pun berpikir kira-kira senior tersebut masih kuliah disana nggak ya pas aku lulus SMA, lumayan kan ntar aku bisa ngejar *eh) intinya sang senior tersebut digambarkan seperti seseorang yang perfect.

Singkat cerita, si Aku mengobrol sebentar dengan sang senior dan secara kebetulan, si Aku bertemu kembali dengan sang senior saat pertemuan beberapa saat kemudian (rupanya nggak jadi bolos hehe). Si Aku pun berbincang-bincang santai dengan sang senior sambil mengomentari dosen yang mengisi pertemuan, sang dosen disebut ngaret karena sudah beberapa menit berlalu sang dosen tak tampak juga batang hidungnya, sedangkan sang senior mendengarkan tersenyum (pokoknya tipikal teman ngobrol yang enak banget). Setelah 30 menit berlalu akhirnya sang senior yang mengambil alih pertemuan tersebut.

Hingga beberapa bulan setelahnya, si Aku bertemu kembali dengan sang senior. Kebetulan mereka akan menaiki bis yang sama, mereka pun kembali mengobrol-ngobrol. Namun sayangnya obrolan tersebut tak berlanjut pula di dalam bis karena sang senior duduk di samping seorang dosen UI juga yang kebetulan naik bis juga.

Disanalah sebuah kenyataan terkuak…

Si aku tak sengaja mendengar pertanyaan si dosen kepada kakak kelasnya tentang berapa banyak mata kuliah yang akan diajarkan sang seniornya. Awalnya tokoh Aku berpikir bahwa si senior hanyalah asisten dosen, bukan dosen beneran. Eh ternyata emang dosen beneran ding, dan lucunya lagi, sang senior adalah dosen yang mengisi pertemuan beberapa bulan sebelumnya, pantas saja ya sang senior mengambil alih pertemuan tersebut. Si Aku sendiri merupakan orang yang lupa menanyakan nama saat berkenalan sehingga dalam rentang waktu selama itu si Aku tak mengetahui nama dari seniornya –yang ternyata bukan senior tapi dosen- itu.

Sebuah kenyataan lagi, bahwa si Aku dan sang senio alias dosen itu kini adalah suami istri (yaah, padahal tadinya jadi kepengen masuk UI biar bisa ketemua sama si dosen manis yang diceritakan itu, hehe – nggak ding bercanda aja)

Itu baru cerita tentang dosen manis. Belum lagi cerita lainnya. Tentang kisah mahasiswa dengan dosen yang penyabar banget(saking sabarnya dikerjain sama terus sama para mahasiswanya), ada juga dosen yang suka ngambek lalu malas ngajar, ada dosen yang lucu banget dan santai kalo ngajar-tapi pas hasil semester keluar nilai mata kuliah dengan dosen tersebut malah jelek banget, dosen yang punya geng, dosen yang suka tebar pesona, dosen yang perhatian banget, sampai dosen yang genit dengan mahasiwanya juga ada, ada pula dosen yang diberikan nama unik oleh mahasiswanya seperti : Pak Bintang Kecil, Dosen Ajaib, Mr.Kecambah, Mr.Killer, Mr. Ngiler, Mr.Vijay, Mr.Expired, Profesor Penjaga Labor dan lain sebagainya.

Selain memberikan gambaran tentang lika-liku dunia perkuliahan, buku ini juga mempunyai banyak pelajaran buku ini juga menyuguhkan pelajaran penting yang mungkin bisa kita ambil baik bila kita menjadi mahasiswa ataupun dalam kehidupan sehari-hari, seperti  :

  •      Salah satu cara jitu mengusir rasa grogi bin gugup bin gemetar adalah dengan memikirkan sesuatu yang menyenangkan dan kuasai hatimu (hal.19)
  •    Manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Ternyata, pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta dan kurang memerhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi (hal.22)
  •     Kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah manusia itu berbudaya sedangkan makhluk lain tidak berbudaya. Salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayannya. Persoalannya, budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam kebudayaan berlaku pepatah ‘lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya’. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau dia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia seutuhnya antara lain dimengerti sebagai budaya itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya (hal 23)
  •      Dari beliau aku belajar bahwa menjadi dosen harus mempunyai nilai jual. “Selain otak, muka juga nggak boleh jelek”(hal 30)
  •      Mahasiswa kan agent of change, ngomongnya harus ilmiah dong (hal 33)
  •      Kalau sedari muda kalian sudah berani mengambil keputusan untuk bekerja, kalian tak perlu bingung mau jadi apa setelah menjadi sarjana nanti. saya dulu begitu, tidak malu meski harus membopong manula yang ingin melempar jumrah. Semuanya saya lakukan agar bisa tetap kuliah. Hikmahnya, setiap tahun saya bisa berumrah atau berhaji. Siapa yang menyangka hari ini saya jadi dosen dan dekan kalian? Jadi semuanya harus lurus dari niat. Allah selalu mengikuti prasangka hamba-Nya (hal 37)
  •      Selagi masih muda, manfaatkan teknologi dan informasi. Giat bekerja demi menuntuk ilmu akan melipatgandakan pahala dan rezeki dari sudut-sudut yang tak diketahui (hal 38)
  •     Nilaiku tertinggi dalam mata kuliahnya, berarti benar dong, sayangi dosenmu maka kamu akan menyayangi mata kuliahnya (hal 46)
  •     Ternyata, masa kuliah dan masa SMA itu beda banget. Tidak ada perbedaan kasta antara dosen dan mahasiwa. Yang penting kita saling menghormati, menghargai, dan memenuhi semua tugas. Sisanya adalah sebuah hubungan kesetaraan yang mendukung hidup satu sama lain. Jadi jangan underestimed dan overestimed pada dosen. Siapa tahu suatu hari nanti kita bisa jadi rekan kerjanya dan diikutsertakan dalam semua proyek penelitiannya. Asyik, kan? ilmu dapat, pengalaman bertambah, duitnya juga. Alhamdulillah ada (hal 79)

 

Selain itu ada juga sisi negatif yang nggak boleh diikuti seperti titip absen, bolos dan lain sebagainya.

Di akhir buku ini disisipkan tips mencari beasiswa dan alamat-alamat beserta persyaratan instansi yang menyediakan beasiswa bagi para mahasiswa seperti Paramadina Fellowship, Beastudi Etos, Beasiswa Eka Tjipta Foundation, Beasiswa Djarum dan lain sebagainya

Secara keseluruhan, buku ini dapat dikatakan bagus dan cocok di baca semua umur dan kalangan, khususnya anak-anak SMA yang mungkin akan menghadapi masa-masa perkuliahan nantinya. Setelah buku ini, aku merasa lebih pengen jadi dosen ketimbang guru *eh(-_-kan labil lagi)

Baca Yukk 😀

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita 

(John Dewey)

 

Mendidik bukanlah sebuah seni atau keterampilan yang semakin menghilang. Masih banyak orang yang melakukannya sampai sekarang. Namun, semakin sedikit orang yang mampu menghargai peran ini (Jaques Bazun)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s