Mengenang Pak Moh (Almarhum)

Namanya pak Mohardi. Biasanya dipanggil Pak Moh.

Aku pertama kali mengenal beliau ketika pelajaran Penjas di kelas satu. Ketika itu beliau masuk kedalam kelas dan beliau memberikan beberapa peraturan di pelajarannya.

Setelah lama mengenal beliau, aku menyadari beliau adalah guru yang hebat dan berwawasan luas. Dengan beliaulah aku benar-benar seperti belajar Penjas, bukan hanya sekedar olahraga, namun beliau juga memberikan edukasi seputar kesehatan jasmani ketika belajar di kelas.

Seperti ketika beliau berkata bahwa daging ayam lebih cepat terurai di perut dibandingkan daging sapi.

Beliau mengajarkan kami untuk berpikir kritis terhadap masalah seputar kesehatan jasmani.

Walau begitu, aku selalu bingung, mengapa beliau menjadi guru Olahraga padahal di belakang namanya tertera gelar M.IT.

Sayangnya di kelas dua beliau tidak mengajar penjas di kelasku.

Setelah naik kelas tiga, beliau kembali mengajar Penjas. Jujur aku senang sekali bertemu saat tahu akan belajar bersama beliau. Kabar gembiranya lagi, beliau menjadi Wali Kelasku. Katanya sih gak sengaja, sebenarnya beliau menjadi wali kelas IIS dan bu Komariah yang menjadi Wali Kelasku, namun entah kenapa bu Komariah berganti menjadi wali Kelas IIS dan pak Muh menjadi wali Kelasku.

Kabar gembira itu terjadi di suatu hari.

Seperti kebiasannya, ia masuk ke kelas. Pandangannya menerawang, seketika terlihat agak galak. Namun kegalakan itu mencair ketika ia menyengir.

Saat itu beliau bilang. Inilah pertama kalinya ia menjadi wali kelas XII sekaligus wali kelas MIA sepanjang mengajar di Smansa, karena dahulunya ia selalu ditugaskan menjadi Wali Kelas X dan selalu kelas IIS, entah apa alasannya. Singkatnya, ia berkata bahwa akhirnya ia naik kelas juga.

Dan begitulah seterusnya. Di buku batas kelasku, tertulis nama pak Mohardi.

Pak Moh seakan memberi nuansa baru dikelas. Beliau selalu masuk ketika jadwal budi pekerti pagi berlangsung (setiap hari selasa sampai kamis). Aku seakan merasa mempunyai orang tua beneran. Maklum, di kelas dua wali kelasku adalah non muslim sehingga ketika kelas lain menjalankan budi pekerti di dampingin wali kelasnya, kelasku menjalankan budi pekerti tanpa pembimbing dan sesadarnya. Kadang anggota Rohis juga ngingatin buat budi pekerti ketika yang lain sedang sibuk menggunakan waktu budi pekerti buat ngerjain tugas (saking rajinnya). Namun dalam sebagian pertemuan bu Nani juga masuk untuk memimpin budi Pekerti.

Selain punya peraturan di pelajarannya, pak Moh juga punya peraturan di kelasnya, yaitu kelas kami, XII MIA 4.

“Kalau saya udah masuk kelas, nggak ada yang boleh masuk lagi, apapun alasannya itu”

Itulah alas an kenapa terlihat beberapa anak XII MIA 4 yang duduk didepan kelas ketika kelas lain sedang menjalankan budi pekerti.

“Pokoknya saya mau, kelas ini harus selalu bersih ya. Jadwal piket ada kan ? Kalau kelas ini kotor, saya nggak mau masuk lagi disini”

Dan ini bukan Cuma omongan saja. Pernah disuatu hari, tepatnya hari Rabu, pak Moh masuk kelas, namun ketika ia duduk di meja guru, ia melihat kumpulan sampah sisa menyapu yang belum di bersihkan di bawah sebuah meja, karena ceritanya saat pak Moh datang, temanku sedang piket di dekat meja tersebut. “Itu sampah apa?” Tanya beliau. Beliau pun langsung keluar kelas tanpa mengucapkan kata apa-apa lagi. Seketika itu aku merasa bersalah, karena kebetulan hari itu adalah hari dimana aku ditugaskan untuk piket, namun aku belum piket pagi lantaran datang tepat waktu, tepat ketika bel masuk berbunyi.

Kini pak Moh telah tiada. Tepat hari ini, Minggu, 20 September 2015. Aku mengetahuinya pertama kali di grup Line dewan ambalan Pramuka Smansa. Awalnya kukira yang meninggal adalah orang tua pak Moh, namun bingung juga kenapa teman-teman grup malah shock sendiri. Aku pun membaca jelas-jelas pesan yang disampaikan sebelumnya oleh temanku, Thami. Aku pun terdiam sendiri.

Namun beberapa menit kemudian aku merenung dan menangis juga.

Bagaimana tidak?

Baru hari Kamis lalu kami belajar Penjas dengan Pak Moh. Saat itu kami sedang ambil nilai servis Volli. Beliau pun terlihat biasa-biasa saja. Bahkan sering tersenyum juga. Saat itu beliau memakai kaos yang terdapat tulisan ‘Intel’. Aku seakan teringat kembali tentang kebingunganku akan gelarnya.

Baru senin lalu juga aku belajar Penjas Teori di kelas bersama pak Moh. Namun hari itu tidak ada materi atau presentasi melainkan beliau hanya menyuruh kami mengisi LKS dan beliau duduk di meja guru dan memakai kaca matanya. Beliau terlihat lebih tua ketika memakai kacamata, namun sekaligus terlihat lebih bersahaja. Namun saat itu tampaknya beliau lagi agak marah, mungkin karena isu di kelas kami yang agak tidak mengenakkan, yaitu hilangnya HP salah seorang temanku yang hingga kini tak diketahui siapa pencurinya. Sampai beliau pun menegur salah seorang teman perempuanku yang berisik saat yang lain disuruh mengerjakan LKS. Tak berapa lama setelah itu, beliau keluar sambil memanggil Nico dan Mufid serta Roselyn, mungkin masih membahas tentang isu hilangnya HP temanku, Fitrah.

Bahkan di akhir-akhir hidupnya beliau masih sibuk mencari pelaku yang mencuri HP anak didiknya, namun beliau juga katanya telah tahu siapa-siapa saja yang kemungkinan mencuri HP Fitrah.

Bahkan di akhir hidupnya beliau masih peduli dengan anak didiknya. Kasih seorang guru.

Aku merasa menyesal ketika mengingat kejadian dimana pak Moh keluar dari kelas dan kejadian hilangnya HP Fitrah. Aku seakan ikut membuat pak Moh kecewa.

Masih terngiang-ngiang kata-kata beliau di kelas di suatu hari dimana HP Fitrah hilang.

“Saya hanya ingin meluruskan yang ada di kelas ini. Jika ada kejadian seperti ini, bagaimana kelas ini bisa kompak bila tidak bisa saling menjaga?. Saya anggap tidak ada yang mencuri, mungkin ada yang menyimpankan HP itu.”

Namun sayangnya tetap gak ada yang ngaku.

Dan kini aku juga bingung tentang kelanjutan hariku disekolah.

Kelasku kehilangan bapaknya, orangtuanya. Mungkin, dalam beberapa waktu kedepan, kelasku akan kembali menjalankan budi pekerti tanpa pembimbing disekolah. Mungkin, dalam beberapa waktu kedepan, jam olahragaku akan diisi dengan olahraga bebas terus menerus.

Ketika aku sedang merasakan punya wali kelas yang menyenangkan, sosok wali kelas itu dipanggil Allah.

Tak akan ada lagi seorang bapak yang akan kutemui duduk di dekat pos satpam setiap harinya dengan kacamatanya dan membaca Koran, sambil menunggu anak didiknya lari keliling sekolah.

(kegiatan rutin di sekolahku saat pelajaran penjas berlangusng adalah berlari keliling lingkungan sekolah, pemanasan, dilanjutkan praktek)

Tak akan ada lagi seorang bapak yang akan mengingatkanku untuk menyetor infak mesjid ke koperasi hari Kamis.

“Debby, nanti infak mesjidnya di setor ke bu Nur ya. Setiap hari kamis aja”

“Debby, sudah di setor infak mesjidnya?”

Tak akan ada lagi bapak yang akan memarahi anggota kelasku ketika melihat kelas kotor.

Tak akan ada lagi kudengar suaranya ketika budi pekerti berakhir,

“Ya. Baik. Assalamualaikum”

Tak akan ada lagi bapak yang akan mengelilingi, mengawasi muridnya ketika sedang melakukan pemanasan saat pelajaran olahraga akan dimulai, sambil sesekali menutup hidung seakan mencium bau aneh ketika kami sedang pemanasan dengan mengangkat tangan.

Tak ada lagi guru Penjas senior yang penuh humor disekolahku.

Tak kan lagi kudengar suaranya ketika pemanasan telah berakhir.

“Ya. Baik. Siap…Gerak. Setengah lancang kanan…Gerak. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Walau begitu, beliau akan selalu ada dalam hati kami. Nasihat-nasihat beliau. Peraturan-peraturan beliau. Lembar tugasku yang terdapat tulisan B+ kecil beserta parafnya, paraf terakhir beliau yang aku dapatkan, akan selalu kusimpan.

Aku memang tak begitu mahir ketika disuruh merangkaikan kata doa yang indah.

Namun doaku sama seperti yang lainnya. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang indah di sisi-Nya. Semoga beliau tetap menjadi inspirasi kami, anak didiknya. Beliau akan selalu kami kenang, beliau akan selalu ada di sekolah sekaligus rumah kami, SMA Negeri 1 Batam, karena beliau adalah bapak kami, anggota keluarga besar kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s