KANTUNG PLASTIK BAYAR ?? ATURAN SIAPA ?!! (Cerita di Endobalet)

Ceritanya,,, kemarin malam, pulang dari les, aku dan mama pergi ke sebuah mini market yang akhir-akhir ini kelahirannya bertebaran di seantero kota bagaikan jamur divisi basidiomycotina yang berciri-ciri hifa bersekat, mempunyai basidiokarp, dan badan buah berbentuk seperti payung.

Sebut saja namanya ‘Endobalet’ (bukan nama sebenarnya) .

Maksud dan tujuanku datang ke ‘Endobalet’ tak lebih dan tak kurang hanya untuk membeli obat sakit kepala karena hari itu kepalaku ‘nyut-nyutan’, mungkin karena cuaca yang lumayan panas, ditambah lagi karena beberapa jam sebelumnya aku melahap soal-soal limit yang sebenarnya gak begitu susah asal kita tahu konsepnya, tapi cukup menguras hati dan pikiran.

Oke kembali ke topik. Jadi ceritanya aku dan mama sedang menimbang obat sakit kepala apa yang akan dibeli ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara lemah-mengiba-dan-mengiris-serta-menyayat-hati disampingku.

“Kak … Minta uang kak…”

Eh Ayam !!

Hampir aja aku melompat saking kagetnya ketika melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh berdiri di sampingku dan mengadahkan tangannya. Tangan kiri nya megang ranting kering pohon. Itu ranting buat apa ya?. Mama pun beristighfar ketika melihat anak itu. Aku heran darimana datang nih anak?

Aku berpikir keras dan akhirnya nggak yakin kalo nih anak tersesat kehilangan ibunya di minimarket yang luasnya tak seberapa ini.

Mama pun berjalan ke kasir, hendak memberitahukan pada petugas Endobalet atas kedatangan anak ini (ternyata nih anak juga ngajak temannya. Ya rabbi -_-). Ga boleh dibiarin. Lagian ini juga akan menganggu kenyamanan pelanggan dalam berbelanja. Gak lucu kan citra Endobalet jadi jelek nantinya.

“Mas…”

Kalimat mama terhenti karena ternyata di kasir sedang ada pembicaraan antara oom kasir dan seorang pelanggan. Sebut saja namanya Ibu X.

“Lho darimana ini peraturan kayak ginian ?”

“Ini bu” ujar oom kasir, sambil menunjukkan sebuah poster bergambar kantung plastik, “Ini memang peraturan dari pemerintah kalo pake plastik bayar 200”

Oh.. masalah ini toh..

“Iya tapi sejak kapan ? kok gaada dibilangin??”

“Ini sudah ada tulisannya bu. Peraturan dari pemerintahnya memang kayak gitu”

Kulihat wajah oom kasir agak kusut.. seakan-akan dia mau bilang ‘Plis bu jangan salahin saya. Dari sononya emang peraturannya kayak gitu. Saya mah cuma nurut. Saya disini cari rezeki bu. Bukan cari yang lain-lain’

“Iya bu. Peraturannya memang sudah seperti itu. Sudah lama kok disampaikan. Kira-kira dua bulan yang lalu, tujuannya untuk mengurangi penggunaan kantung plastik” ujar mama yang kebetulan berdiri di samping ibu X, ikut memberikan pemahaman.

Wajah oom kasir terlihat agak cerah karena mendapat dukungan. “Iya bu memang peraturan pemerintah”

Sejenak aku berpikir. Lelah juga ya jadi oom kasir, ini baru satu orang, gimana yang lainnya.

Tapi si Ibu X seperti nggak mau terlihat kalah.

“Ya tapi masa ada aturannya saya nge-bawa kayak gini” ujar ibu X pada oom kasir sambil menunjukkan tangannya yang terasa nggak cukup membawa beberapa bungkus mie dan barang lainnya. Nih ibu kayaknya pengen ngajak oom kasir berantem deh..

Lapangan, mana lapangan ?

“Iya bu, maka dari itu disarankan untuk membawa tas belanja sendiri” sambil kembali menunjukkan poster di sampingnya.

Mama tersenyum padaku sambil geleng-geleng kepala dan berlalu, aku mengikuti beliau ke tempat produk sabun cuci muka. Terlihat banyak pasang mata yang mencuri pandang sedikit keributan di tempat kasir.

Aku nggak menyalahkan apa yang dilakukan oleh ibu X. Setidaknya itu adalah salah satu bentuk demokrasi, setiap orang kan memiliki kebebasan dalam menyampaikan pikirannya. Toh dengan begitu akan tercipta kesalingpahaman antara penjual dan pembeli. Pengamalan Pasal sekian.. Sila ke sekian..

Ketika mengingat wajah oom kasir tadi. Tiba-tiba aku teringat bahwa di kelas 10 aku pernah ikut ekskul debat. Kata bu guru, ketika menyampaikan argumen, kita harus menyertakan data yang akurat, bukan hanya sekedar opini. Pengen rasanya aku ngusulin sama oom kasir untuk menyertakan pasal, ayat dan undang-undang nomor berapa yang mengatur peraturan tentang ‘pake-plastik-bayar-200’ ini, kalo perlu sertakan tanggal pengesahannya biar lain kali oom nya ga mati kutu ngehadepin ibu-ibu X yang lain.

Gayamu Deb..

Biacara tentang ‘pake-plastik-bayar-200’ ini, aku sih setuju banget sama pemerintah. Malahan aku ngusulin aja kalo perlu jangan 200, tapi 1000 aja, biar efeknya lebih ngena. Tapi untuk permulaan gapapa deh. 200 dulu juga boleh. Semua kan butuh proses. Hehe

Apalagi ngingat ibu X tadi. Baru 200 rupiah aja protes. Gimana kalo harga plastiknya 1000 ya? Bisa-bisa beliau malah bawa warga satu RT demo di depan Endobalet.

Kan kasihan si Endobalet L

Susah juga yang jadi pemerintah. Dari sini aku belajar bahwa ketika kita membuat suatu keputusan, pasti selalu ada pihak yang mendukung dan ada juga yang tidak. Kita juga tidak bisa memaksakan semua orang setuju dengan apa yang kita lakukan. Lumayan susah menyatukan isi pikiran dari jutaan kepala di tanah air ini. Namun, kembali lagi ke niatnya, kalo emang niat dan tujuannya juga baik, Inshaallah kedepannya dilancarkan.

Bicara tentang ‘pake-plastik-bayar-200’ ini, aku juga teringat bahwa sebenarnya aktivitas ini sudah kupelajari sejak SD. Ketika itu guru IPA ku menyampaikan bahwa salah satu cara mengurangi pencemaran lingkungan adalah dengan mengurangi penggunaan kantong plastik dan menggantinya dengan tas belanja. Beliau juga menjelaskan dampak yang terjadi akibat kantung plastik dan lain sebagainya.

Sampai-sampai soal ujiannya juga ada materi itu.

Namun walau sudah mempelajarinya, bisa dibilang aku hanya tahu teori namun tidak dengan praktiknya, toh ketika menerima kantong plastik setiap belanja. Aku anteng-anteng aja.

Peraturan PPB2 ini (kusingkat aja yah hehe) seakan menamparku. Seakan-akan dia berkata..

“Helloww.. kenapa baru sekarang ketika udah keluar peraturan baru lo mau nurut ngurangin pemakaian plastik? Dulu-dulu kemana aja? Dasar ya, tunggu udah ada ancaman, baru tobat”

Kan aku ngeri sendiri…

Setidaknya aku bersyukur sudah diberi pemahaman seperti sejak dahulu sehingga nggak syok seperti Ibu X.

“Eh, sana ! Kalian mau ngapaian ? Keluar !”

Eh.

Ternyata salah seorang petugas sedang menyuruh si anak kecil yang tadinya sempat minta duit kepadaku.

“Ahh.. Nggak mau ! Ngapa kau? Aku mau belanja” ujar sebuah suara khas anak kecil yang menantang teman sebayanya.

Astagfirullahaladzim. Tadi tuh anak suaranya lemes banget pas minta duit. Kenapa sekarang suaranya jadi kuat gitu. Pengen kusumpal pake apa ya enaknya? Kasihan oom petugasnya, pasti kewalahan ngadepin anak kayak gitu, tugasnya si oom disana udah banyak, jangan ditambah-tambah. Baru kecilnya aja udah kayak gitu, besar mau jadi apa kamu nak ?

Sesampainya dirumah, aku pun iseng googling.

Dan akhirnya aku ketemu deh apa yang aku cari

“Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan surat edaran di bawah Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya bernomor: SE-06/PSLB3-PS/2015. Surat tersebut ditujukan kepada kepala daerah dan pelaku usaha; tentang penerapan plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Tidak kurang, Presiden Jokowi memberi perhatian khusus dengan memerintahkan agar ada regulasi yang dapat mendorong Pemerintahan Daerah secara konkret menyelesaikan persoalan sampah beserta percepatannya pada tahun 2016 dan 2017 ini. Bahkan, tahun 2011, Kementerian Lingkungan Hidup-kini KLHK- telah mewacanakan penerapan cukai pada kantong plastik. Plastik diberlakukan seperti rokok dan minuman beralkohol yang membahayakan bagi kesehatan. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas UU No 11/1995 tentang Cukai, cukai bisa diterapkan terhadap barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik tertentu, di antaranya konsumsinya perlu dikendalikan dan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup. Plastik satu di antaranya.”

 


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/webe/kantong-plastik-berbayar-atau-tutup-pabrik-kantong-plastik_56c9aefb5b7b612c1198e678

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan surat edaran di bawah Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya bernomor: SE-06/PSLB3-PS/2015. Surat tersebut ditujukan kepada kepala daerah dan pelaku usaha; tentang penerapan plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Tidak kurang, Presiden Jokowi memberi perhatian khusus dengan memerintahkan agar ada regulasi yang dapat mendorong Pemerintahan Daerah secara konkret menyelesaikan persoalan sampah beserta percepatannya pada tahun 2016 dan 2017 ini. Bahkan, tahun 2011, Kementerian Lingkungan Hidup-kini KLHK- telah mewacanakan penerapan cukai pada kantong plastik. Plastik diberlakukan seperti rokok dan minuman beralkohol yang membahayakan bagi kesehatan. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas UU No 11/1995 tentang Cukai, cukai bisa diterapkan terhadap barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik tertentu, di antaranya konsumsinya perlu dikendalikan dan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup. Plastik satu di antaranya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/webe/kantong-plastik-berbayar-atau-tutup-pabrik-kantong-plastik_56c9aefb5b7b612c1198e678

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan surat edaran di bawah Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya bernomor: SE-06/PSLB3-PS/2015. Surat tersebut ditujukan kepada kepala daerah dan pelaku usaha; tentang penerapan plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Tidak kurang, Presiden Jokowi memberi perhatian khusus dengan memerintahkan agar ada regulasi yang dapat mendorong Pemerintahan Daerah secara konkret menyelesaikan persoalan sampah beserta percepatannya pada tahun 2016 dan 2017 ini. Bahkan, tahun 2011, Kementerian Lingkungan Hidup-kini KLHK- telah mewacanakan penerapan cukai pada kantong plastik. Plastik diberlakukan seperti rokok dan minuman beralkohol yang membahayakan bagi kesehatan. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas UU No 11/1995 tentang Cukai, cukai bisa diterapkan terhadap barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik tertentu, di antaranya konsumsinya perlu dikendalikan dan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup. Plastik satu di antaranya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/webe/kantong-plastik-berbayar-atau-tutup-pabrik-kantong-plastik_56c9aefb5b7b612c1198e678

(http://www.kompasiana.com/webe/kantong-plastik-berbayar-atau-tutup-pabrik-kantong-plastik_56c9aefb5b7b612c1198e678)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan surat edaran di bawah Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya bernomor: SE-06/PSLB3-PS/2015. Surat tersebut ditujukan kepada kepala daerah dan pelaku usaha; tentang penerapan plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Tidak kurang, Presiden Jokowi memberi perhatian khusus dengan memerintahkan agar ada regulasi yang dapat mendorong Pemerintahan Daerah secara konkret menyelesaikan persoalan sampah beserta percepatannya pada tahun 2016 dan 2017 ini. Bahkan, tahun 2011, Kementerian Lingkungan Hidup-kini KLHK- telah mewacanakan penerapan cukai pada kantong plastik. Plastik diberlakukan seperti rokok dan minuman beralkohol yang membahayakan bagi kesehatan. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas UU No 11/1995 tentang Cukai, cukai bisa diterapkan terhadap barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik tertentu, di antaranya konsumsinya perlu dikendalikan dan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup. Plastik satu di antaranya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/webe/kantong-plastik-berbayar-atau-tutup-pabrik-kantong-plastik_56c9aefb5b7b612c1198e678

 

Rasanya aku pengen nyoba daftar jadi pertugas kasir di Endobalet

Terus kalo aku ketemu ibu-ibu X yang lain (atau mungkin juga bapak-bapak X) aku bakal ngebalesnya kira-kira gini.

“Bu, menurut surat edaran Dirjen Pengelolaan Sampah no sekian pasal sekian yang telah tertera diatas, ini memang sudah kebijakan yang disahkan oleh pemerintah dan dijalankan diseluruh Indonesia. Jadi mohon ibu mendukung karena dengan begitu kita dapat mewujudkan gaya hidup ramah lingkungan demi masa depan anak dan cucu kita nanti”

*sambil pasang wajah imut dan senyum semanis gula*

“Oh iya bu, satu lagi. Saya sarankan pada ibu. Sekali-kali, channel TV di rumah ibu harus diganti. Jangan hanya menayangkan drama turki, india, sinetron abg dan gossip gossip yang ‘fresh from oven’ serta tayangan hiburan lainnya karena akan berpengaruh pada kurangnya frekuensi tayangan berita di tv ibu dan berdampak pada ketidaktahuan ibu tentang informasi terkini. Setelah ibu menggantinya, kalo ibu ngajak saya debat, saya ladenin deh”

Dialog terakhir akan aku ucapkan ketika aku sudah bosan dan lelah jadi kasir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s