Apa Cita-citaku ?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Pertama-tama kuucapkan puji dan syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepadaku sehingga aku memiliki kekuatan untuk menulis blog ini dan menjauhkanku dari godaan untuk bobo cantiQ seperti yang biasa kulakukan setiap malamnya.

Okelah sobat. Dimalam minggu yang agak dingin ini (karena tadi agak gerimis), aku akan mencurahkan sedikit isi hati dan pikiran yang ada di dalam raga ini, karena agak sesak juga dipendam sendirian, ntar bawaannya baper *apasihdebby*

Jadi, aku pengen curhat nih..

Dengerin ya..

Eh, nggak ding,, baca ya maksudnya.. Jangan buru-buru ngantuk

PLISSSS

Baca ya Baca . BACA

Okehh. Jadi gini (bingung mau mulai dari mana – gregetan)

Jadi begini…

Kalo kita nanya ke anak SD apa cita-citanya, pasti sebagian besar dari mereka bilang pengen jadi dokter kan ya?. Memang ada sih yang bilang pengen guru, polisi, atau lainnya. Namun menurut penelitian singkat yang kulakukan, pasti kebanyakan dari anak-anak SD bilangnya kalo mereka pengen jadi dokter, entah itu karena niat mereka sendiri dari lubuk hari mereka yang paling sunyi, atau karena doktrin dari lingkungannya yang seakan menumbuhkan mindset bahwa cita-cita yang bagus itu adalah menjadi dokter.

Kalo penelitianku ini kurang akurat.. yaudah maklumi aja dan anggap penelitianku ini memang benar-benar sebuah fakta umum dan teruji secara klinis. Habis,, disini kan aku yang lagi cerita, jadi suka-suka daku mau nulis apa ya, hehe :3

Okeh jadi ceritanya, dulu,,, saat aku duduk dibangku SD, aku pernah bercita-cita jadi dokter..

CITA-CITA PERTAMA : DOKTER

Okeh, untuk bagian ini, sejujurnya aku juga bingung darimana asalmula keinginanku ini. Dulu sekali, ketika masih duduk dikelas satu dan dua, sepertinya mamakku pernah bilang,

“Kalo nanti ditanya orang cita-citanya apa, bilang aja mau jadi dokter ya”

Dan sejak saat itulah cita-cita dokter melekat di diriku,

“Debby mau jadi apa?”

“Dokter mak”

“Debby benaran mau jadi dokter atau Cuma ikut kata-kata mamak aja?”

“Memang benaran mau jadi Dokter”
Begitulah jawabanku ketika sekitar 2-3 tahun kemudian mamakku bertanya tentang cita-citaku. Bahkan saat itu aku pun tak terlalu berpikir tentang masa depan, bakal jadi apa dan lain sebagainya. Yha, maklum, masa-masa SD kan masa-masanya main petak umpet, main ‘Cip’ siapa kena ‘Jadek’, main ‘Tam-tam Buku’ dan lain sebagainya.

Bahkan, saat bapakku mendaftarkanku ke SMP, aku seperti ga ada yang istimewa aku bersikap seperti air, mengikuti arus. Begitulah kurangnya pemahamanku terhadap masa depan. Yang ada di otakku saat itu adalah “Oh, udah lulus SD ya? Terus sekarang lanjut SMP ya? Oh ya udah lah. Mungkin memang gitu peraturannya”

Maklum,masih otak-otak anak SD

CITA-CITA KEDUA : GURU

Okeh, cita-cita keduaku adalah guru.Cita-citaku menjadi dokter seakan pudar. Aku ragu apakah bisa jadi dokter, bukan, bukan karena tidak percaya diri, namun aku tidak berminat masuk jadi dokter, kuliah 6 tahun, banyak praktek ini itu, bahkan aku aja takut lihat darah, takut jadi catat, luka dikit aja aku udah khawatir tuh luka dijahit atau ngga (maklum, pengalaman kelas 6 SD, kakiku luka besar dan dijahit karena kena Cutter, dan itupun aku sendiri yang megang Cutternya karena saat itu lagi mau mutusin tali layangan yang nyangkut di sepeda)

Cita-cita ini mulai muncul sejak aku duduk di bangku SMP dan bertahan sampai aku duduk di kelas 2 SMA. Saat melihat guru-guru menjelaskan pelajaran, rasanya pengen aja jadi seperti mereka, mengajar, berbagi ilmu, dikenal oleh banyak anak didiknya, mengatur kelas, memeriksa tugas siswa, bercengkrama, memotivasi mereka, dan lain sebagainya. Terlebih lagi menurut buku-buku yang kubaca, yang isinya seputar mencari jati diri, aku sepertinya memang cocok jadi pengajar, karena aku suka bicara dan menjelaskan sesuatu. Ya, aku suka bila semua perhatian (dalam kelas) tertuju padaku.

Intinya aku suka dengan pekerjaan ini, pekerjaan yang menurutku merupakan perwujudan cita-cita negara secara langsung, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan seperti ‘mereka’ yang hanya mengatasnamakan pendidikan dalam kampanyenya namun tak pernah terlibat secara langsung dalam pendidikan itu sendiri. Maju tidaknya sebuah negara kan bergantung pada SDM nya, kalo kualitas SDM nya masih rendah, bagaimana bisa maju? aku pernah membaca bahwa aspek penting yang harus dilakukan di Indonesia adalah memajukan pendidikannya, bukan memajukan ekonominya. Bila kualitas SDM sudah maksimal, pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat karena masyarakatnya sudah memilliki pola pikir tersendiri untuk memajukan bangsanya.

Maka dari itu aku ingin menjadi guru, setidaknya apa yang akan kulakukan ketika menjadi guru nanti dapat memberikan sumbangsih sepersekian persen bagi peningkatan kualitas SDM Indonesia kedepannya, *efek belajar lintas minat ekonomi*. Selain itu, alasanku ingin menjadi guru karena adanya sebuah hadist yang mengatakan bahwa ilmu yang bermanfat adalah salah satu amalan yang tidak terputus walaupun seorang hamba Allah sudah meninggal. Aku suka menganalogikan hadis ini dengan sebuah kondisi, dimana dapat kita bayangkan berapa banyak pahala yang didapatkan oleh sebuah guru yang mengajar sekitar 30 otak dalam sebuah kelas, namun itu baru satu kelas, jika guru tersebut mengajar beberapa kelas, otomatis pahalanya nambah toh? Kan lumayan juga, mendapat banyak pahal untuk menyaingi bahkan mungkin melebihi dosa-dosa diriku ini yang tingginya kayak gunung Everest. Terlebih ketika ilmu yang didapat oleh otak-otak itu disebarkan lagi kepada yang lainnya, nambah pahala lagi dong ya ? *kayak bisnis MLM deh jadinya*

Namun, saat duduk di kelas 3, aku baru sadar bahwa aku hanya memikirkan ‘enak’-nya dari pekerjaan guru, aku ngga memikirkan bahwa banyak resiko juga ketika menjadi seorang guru, dimana kita tidak boleh salah dalam memberikan ilmu, bertanggungjawab atas paham tidaknya pelajaran kita di otak para siswa kita karena sukses atau tidaknya seorang guru dapat dilihat dari siswanya. Aku pernah menjelaskan presentasi di depan kelas, pernah juga mengajari temanku beberapa soal MTK dan akibarnya suaraku berubah jadi serak karena ngejelasin panjang lebar.

Adapun sesuatu yang membuatku mikir-mikir lagi untuk menjadi guru.

Aku baru sadar bahwa aku adalah anak pertama, tumpuan harapan keluarga, panutan bagi adik-adikku yang masih kecil. Aku harus lebih banyak bekerja keras untuk menghidupi keluargaku mengingat ketika 4 tahun lagi, bila aku telah lulus kuliah, dapat diperkirakan bahwa bapak dan mamak takkan kuat untuk bekerja, otomatis aku sebagai anak sulung juga harus bekerja lebih keras untuk menghidupi keluarga agar adik-adikku dapat menjadi orang yang terpelajar, minimal S1 deh. Aku tidak mengatakan bahwa gaji guru kecil, gaji guru besar kok, namun dengan menjadi guru, aku merasa peluang kerjaku jadi sempit. Aku nggak memupuskan cita-cita guruku ini, aku tetap ingin jadi guru, tapi yang bebas, seperti Dosen misalnya. Dengan menjadi dosen otomatis aku juga sedang memacu diriku sendiri untuk tetap menomorsatukan pendidikan selain mencari uang.

Dan Akhirnya bingung sendiri deh akunya…. huhuhu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s